By; jktmoonlight.blogspot.com
Tapi yang jelas, kupu-kupu itu belum menyerah untuk menghinggapi kemeja biru lusuh tua yang selalu menjadi kemeja sepi favorit gue.
Seakan akan mengucapkan selamat bahagia untuk segala sepi yang selalu gue nikmati. Sayapnya yang indah seperti menafsirkan seikit iri akan pundak gue yang barangkali terlihat lapang.
Gue tau, kupu-kupu itu sedang merasa sendirian di taman ini, makanya dia iri dengan pundak gue yang terlihat lapang, tapi.. alangkah baik dia menyimpan itu semua, karena gue tau walau sendirian, dia gak akan kesepian di taman ini. Nyanyian selamat pagi bunga matahari tidak akan pernah membuat ia bersedih, sedang ucapan selamat tidur tulip ketika bulan sedang bersinar sinarnya tak akan membuat ia kesepian.
bunga bunga selalu berhasil menghibur sayapnya yang sudah berelana jauh.
Beda sama gue, gue memang tidak pernah sendirian, manusia manusia bumi gak akan pernah lepas dari hembusan kehidupan gue yang selalu bergantung pada oksigen. Tapi gue cukup kesepian, asap asap Jakarta yang beterbangan gak pernah membela gue dan justru menjadi boomerang perang diatas pundak gue yang jauh selalu terburu waktu.
Beranjak dewasa memang tidak pernah menyenagkan. tapi bukan berarti gue menyatakan masa kecil gue bahagia.
Entah kenapa, sebenernya gue gak tau kenapa gue ke taman padahal matahri sedang terik teriknya bersinar diatas angka 12. Langkah membawa gue dengan random kesini karena taman gak berjarak terlalu jauh dari rumah.
Duduk disalah satu bangku, kupu kupu tadi akhirnya terbang. Tapi Ia tidak berkelana jauh, hanya terbang menghinggapi beberapa bunga yang tumbuh tepat disebelah gue.
“kenapa? Iri sama kupu kupu itu ya?” gue menoleh, seorang pemuda dengan sebuah switter abu-abu dan celana jogger hitamnya menghampiri gue dari balik kacamata hitam yang terlihat sangat pas di wajahnya.
Gue gak menjawab. Tapi pemuda itu terus tetap berjalan mendekat, kemudian duduk disebelah gue yang masih diam.
“kenapa? Jawab aja. Sebagian dari kehidupan kan memang Cuma tentang segumpalan benang iri yang kait mengait antar individu ke individu” ucap pemuda itu setelah duduk dan menggerak gerakkan kakinya. Tak mendengar apa apa, ia kemudian Mengalihkan pandangan menuju tujuan pandangan gue. Lurus kedepan. Menuju sebuah kolam ikan yang ramai oleh ikan koi warna warni
Gue masih diam.
“terlepas iri atau enggak. Gue tetep percaya hidup seimbang” jawab gue setelah menimbang.
lelaki itu kembali bersuara, “gapapa untuk iri. Iri juga manusiawi kok”
Gue tertawa hambar mendengar kicauan suaranya yang tidak terlalu berat itu “haha, Mario teguh? Atau mery riana?” cibik gue, masih memandang lurus kearah kolam ikan.
“asal iri kamu gak menyebabkan kedengkian sampe bunuh kupu kupu tadi. Itu masih manusiawi kok”
Gue menggeleng kecil “semua yang dilakukan sama manusia itu manusiawi. Kalo enggak, gak akan pernah terjadi di golongan makhluk tanah. Namanya juga manusiawi, ya tandanya segala perbuatannya.”
“okee, mungkin bisa diterima. Tapi gak di saya kayaknya. Btw, taman ini penuh dengan kebahagiaan yang senyap ya. Saya sering kesini, menurut kamu gimana?"
gue akhirnya menoleh kearah wajah itu yang masih menatp lurus ke arah kolam ikan. “gak usah saya sayan deh, lo gak cocok jadi rangga”
Dia membalas tatapan gue “ tapi lo cukup cocok jadi cinta” suaranya terdengar menimbang.
Gue cuma mengangkat bahu tak acuh, peduli banget sama perkataan manusia sok puitis di hadapan gue adalah sebuah kesalahan. "Terserah deh"
Selang beberapa menit, lelaki itu kembali bersuara "Sering kesini siang siang juga? Ga kepanasan?"
Gue menjawab tak acuh "gangerti juga kenapa bisa kesini"
"Ohh, kalo gitu ini namanya jalan semesta buat mempertemukan kita kali ya"
Gue tersedak ludah gue sendiri. "Lo gila?"
...
Sejak pagi matahari tidak bersinar terik seperti biasanya, awan awan dan udara dingin sisa hujan semalam terus menutupi beberapa kebiasaan Jakarta yang selalu kekeh dengan cuaca panasnya.
Awan awan itu seperti memberi jeda rehat untuk mentari sejenak bersua dengan kata istirahat. Bergandengan sejenak dengan kalimat paling gue pingin "hilang sejenak"
Ya, kalau ada peru yang kasih gue satu permintaan, hilang sejenak adalah permintaan yang bakal gue pinta.
Pasalnya kadang bumi seperti gamau sama sekali gue ajak untuk berteman sebentar, takdirnya seakan memaksa gue selalu berlari tanpa jeda, dan istirahat cuma dalam bentuk lupa didalam tidur.
Kadang gue cape, hidup selalu berputar gitu gitu aja. Cuma menyuruh kita makan dan tidur cuma karna itu harus, Bukan ingin.
Menyuruh kita bahagia dan sedih, cuma karena itu yang bisa dirasakan. Tapi sayangnya sering kali tidak memberi kita ruang untuk menikmati. Juga bentuk sakit dan sehat yang cuma siklus, lelah dan segar cuma karena syarat.
Gue cape,
Hidup yang memiliki banyak pilihan ini seperti tidak memberi pilihan apa apa untuk kita bertengkar dengan waktu dan segala upaya jalannya.
Kita gak pernah tau apa yang akan terjadi di depan, tapi kita selalu dipaksa untuk siap.
"Hallo ren, gue udah sampe di depan rumah sakit. Otw ya" hari ini, siklus sakit dan sehat itu menimpa salah satu sahabat gue. Tifus menyerangnya yang terlalu sibuk belajar untuk kelulusan.
Kita sekelas, pribadi gue yang nyantai dan egois sama waktu gak setuju sebenarnya sama pola hidupnya yang terlalu mengejar. Katanya, dia berniat dapet nilai sempurna UN tahun ini. Dan berakhir dirumah sakit kali ini.
Tapi apapun alasannya, asal masih di jalan yang lurus, gue mendukung tapi jangan pernah menyeret gue ke zona yang seperti itu.
Petugas rumah sakit menyambut gue dengan baik. Gue bertanya sebentar ke resepsionis tentang kamar. Dan langsung menuju kesana.
Renada terlihat terbaring seorang diri di kamar VIP nya yang dipenuhi beberapa perabotan tidak terlalu penting untuk ada di rumah sakit.
Gue membuka pintu, gadis itu ternyata sedang asyik berbaring sambil membaca buku, yang entah apa gue gak perduli.
"Bokap Lo mana?" Tanya gue begitu tiba.
"Santai Napa Ra, Dateng Dateng salam dulu. Baru masukkkk"
Gue memutar bola mata malas. "Iya iya, assalamualaikum renada. Lagi baca apa?" Ucap gue dengan intonasi yang menyebalkan.
Tapi gadis itu masih tersenyum "waalaikumussalam purnamaa"
Mencebikkan bibir, gue duduk di kursi empuk sebelah tempat tidur renada.
"Gimana?"
"Ya lumayan cape"
"Sama kehidupan? Atau sama belajar?"
Gadis itu mencebik kecil "purnama.. kita itu belajar karena butuh. Bukan karena wajib"
"Jadi kalo hidup karna wajib, gue boleh cape dan babak belur?"
"Masuk rumah sakit dulu baru bisa dibilang sakit"
"Kan gak ada lebamnya"
"Yaampun Lo abis baca buku apa ren, sampe gila gini"
"Ah bodoamat deh"
Gue mengangkat bahu, memperhatikan sekeliling yang tampak sepi "Lo sendirian?" Kata gue, karena gue tau nyokap bokap gadis ini terlalu sibuk sama kekusutan kota Jakarta yang penuh dengan ladang bisnis.
"Iya, bokap nyokap emang gak ada. Tapi gue punya temen disini, orangnya di kamar sebelah. VIP juga, panggilin dong hehe" cengir gadis itu.
Menghembuskan nafas berat, gue mulai berdiri "untung Lo sakit. Kalo sehat gue tampol lu"
Kemudian gue beranjak, melangkah mendekati daun pintu. Namun belum sempat gue membuka gagang besi nya yang dingin, pintu itu sudah terlebih dahulu terbuka.
"Pagi renada.. loh? Ini siapa?" Seorang lelaki dengan pakaian pasiennya menggeret infus masuk ke ruangan renada. Laki laki itu menatap heran gue yang juga bertanya tanya.
"Loh, udah Dateng baru aja mau di samperin. Itu namanya bulan, temen aku. Ra, itu Rama. Orang yang gue bilang itu"
Gue mengangguk kikuk belum berani menatap wajah lelaki itu, tapi... Gue ngerasa ada suatu hal yang aneh. Suaranya yang tidak terlalu berat itu terdengar tidak asing di telinga gue yang gak pernah buta suara.
Perlahan gue mulai mendongak, menyusuri wajah lelaki itu.
Kuku kuku hitamnya yang panjang.
Kacamata hitamnya yang terlihat pas.
Rambut legamnya yang belah pinggir.
Wajahnya tak terlihat asing. Gue seperti kenal sama lelaki itu. Tapi sebelum gue menyadarinya, lelaki itu kembali bersuara.
"Lo yang ngiri sama kupu kupu ya?" Skak mat. Sial. Sangat sial.
....
"Ngapain sih bukannya temenin Rena. Gak ada urusan juga gue ngobrol sama Lo" ucap gue kesal keluar dari ruangan VIP Rena.
Namun lelaki itu hanya santai aja.
"Santai, bulan. Gue gak ngegigit kok"
Dengan satu tangannya yang tidak terlilit selang infus, dia mulai menyentuh tangan gue dan menggandeng pergelangan tangan gue yang langsung gue hempasin gitu aja.
"Apa apaan sih Lo? Sokap tau gak?!" Hempas gue sebal.
Tangannya yang cukup kekar itu tidak terlihat kesakitan dengan hempasan gue yang gue lakukan sengaja cukup keras.
"Yaudah, ikut ya?"
Mau gak mau, karena gak enak sama Rena dan semua pengunjung rumah sakit. Gue mengikuti punggung tegap pemuda itu yang dengan santai berjalan selayaknya manusia sehat.
Dia membawa gue ke roftop rumah sakit di sisi paling atas. Udara sore yang cukup dingin menyambut gue dengan desauan anginnya yang tak mau kalah dengan awan.
"Ngapain kesini?" Tanya gue begitu lelaki itu duduk sambil membenarkan kacamatanya yang turun.
"Coba duduk dulu di sini. Gue bukan vampir kok" selang infus yang tersambung di tangan kirinya ia letakkan di sebelah kiri, membiarkan gue menempati sisi kanannya.
"Bulan bisa panggil Rama" ucapnya membuka.
"Udh tau"
"Kalo gitu, Lo tau gak. Rumah sakit ini sebetulnya penuh kebahagiaan"
Gue mengernyitkan dahi "bahagia darimana nya sih? Ini rumah sakit. Bukan rumah sembuh"
"Karena gak semua akan sembuh."
"Makanya jadi rumah sakit? Menyakitkan!" Gue menggeleng kepala, membuang pandangan kehamparan langit sendu dihadapan.
"Tapi sakit itu Rahmat bulan. Seenggaknya kalau itu menyedihkan, tuhan masih mau berbaik dengan mengambil dosa si pasien"
"Tapi itu gak berasa Rama..."
"Kalau begitu, sakit juga suatu hal yg kesenangannya bisa dirasakan"
"Apa? Gak ada" menggeleng kukuh, percakapan dengan Rama yang asing ini semakin menelusup jemari gue yang hampa
"Karena Lo gak pernah merasakan rasa sakit nya bulan. Lo terlalu angkuh sama tuhan"
"Gue gak bersikap angkuh sama tuhan. Tapi apa yang harus kita rasakan dari rasa sakit sih?"
"Ya diarasakan, dinikmatin-"
Gue menyela ucapannya cepat "gimana caranya buat dinikmatin sih? Lo mikir logis gak sih ram?"
"Supaya kalo Lo sehat, Lo bisa bersyukur bahwa Lo pernah ngerasa se jatuh itu."
"Cepet cepet sembuh deh, biar jadi Mario teguh"
"Gue kanker paru paru stadium 4, gagal jantung."
Seketika gue menoleh kearah pemuda itu, jantung gue yang tadinya berdegup dengan malas dengan obrolannya yang menyebalkan, langsung berdegup kencang. Bibir gue kelu.
"Besok ada seorang pasien yang sudah gak ada harapan hidup mau tranplantasi in jantungnya ke gue. Gue gak tau operasinya bakal berjalan lancar atau enggak. Tapi... Gue seberusaha mungkin untuk menikmati sisa sisa detik gue yang barangkali bisa jadi yang terakhir"
"Ram.. gak lucu tau gak"
"Lucu loh, saya lagi di bercandain sama semesta perihal kehidupan. Tapi masih berusaha buat menikmati"
"Ram..."
"Dulu seseorang pernah bilang ke gue, khusnuzon aja walau gak masuk akal. Dan dari situ, gue belajar buat Nerima banyak hal"
"Banyak hal bulan, banyak hal mesti dirasakan, harus dinikmati. Sesakit dan semenyedihkan apapun keadaan dan perasaannya. Semua perasaan berhak diberi ruang. Termasuk perasaan bahwa gue jatuh cinta sama mata Lo"
Bibir gue benar benar terasa Kelu, kehampaan benar benar menghinggapi dada gue.
Perasaan? Jatuh cinta?
"Aneh ya bulan? Enggak kan? Manusia cukup punya waktu 4 menit untuk falling in love. Dan semua itu manusiawi karna saya belum jadi arwah." Pemuda itu tersenyum, hanya tersenyum.
Membuat jantung gue berdenguh semakin pilu.
Gue malu, gue malu dengan senyumannya yang tulus dan tatapannya yang begitu cerah, dia masih mampu. Sedangkan gue yang cuma menanggung beban kesedihan sudah hampir lelah dan selalu sombong sama semesta.
"Lo gak harus Nerima perasaan ini, atau membalas, karena jatuh cinta itu cuma untuk dirasakan sendirian, bukan sebuah pengharapan akan terbalaskan. Terbalaskan atau tidak, itu semua cuma bonus alam. Lagian, saya ngaku cuma karna saya takut besok adalah hari terakhir saya"
Pecah, tangis gue pecah dengan suaranya yang tetap terdengar tegar itu.
"8 hari lalu, mata kamu yang terlihat begitu banyak menyimpan kesedihan dengan hampa itu.. berhasil membuat saya jatuh kedalam lubang itu. Matamu yang terlihat tegar walau saya tau beban dipundakmu gak kalah berat itu, buat saya kagum. Kamu tau? 8 hari lalu saya hampir menyerah, dan saya ketaman hanya untuk menyepi sebelum pulang."
Ia masih tersenyum, jemarinya yang tak terlilit selang infus itu merambat menghinggapi jemari gue yang dingin.
Ia kemudian melanjuti, "dan.. kejutannya, rumah sakit mempertemukan saya sama kamu, tepat di hari sebelum saya berjuang hidup mati. Terimakasih ya bulan, karena kamu saya bisa ada sampai disini"
Tak tahan, gue memeluk lelaki itu. Jantung, hati dan segala dunia gue berantakan dengan random. Suaranya dan tatapan di balik kacamata hitam yang tulus itu seakan menampar gue, bahwa ada. Ada manusia yang masih mencintai gue dengan beban.
Ada manusia setulus dan sebersih putih. Ada. Tapi gue menyesal, karena gue gak tau apa manusia itu akan terus ada atau tidak.
Sambil memeluk gue yang sesenggukan, Rama mengusap rambut gue sambil berujar "kelak, kalau kamu ternyata jatuh kelubang yang sama kayak saya, tapi saya gak ada. Tetap hidup ya, kamu harus janji untuk terus berjuang. Besok besok walau saya ada gak ada. Kamu gak akan lagi kesepian. Saya selalu ada di hati kamu. Terserah mau jadi teman atau apa. Dibalik rembulan ini, untuk pertama kalinya, saya jatuh cinta sama seorang gadis di dalam hidup saya. Dan manusia itu ternyata bulan"
"Semesta suka bercanda banget ya. Tapi kalau lagi bercanda, ya diketawain aja. Dinikmati joke nya yang gak lucu. Karena dibalik sebuah perasaan menghargai, bakal ada kejutan menanti. Makasih buat kamu ada ya bulan"
Entah ada perasaan apa, untuk kedua kalinya, gue kembali percaya makna cinta.
Makna cinta yang lebih dalam dari yang pernah gue rasa, gue memeluk raga lelaki yang ternyata gak bisa gue temui lagi di hari hari berikutnya. Gue memeluknya lama.
Gue bersyukur, gue bersyukur pernah kenal dengan segala keikhlasan yang selalu ada di hatinya.
Entah bagaimana semesta, memang suka bercanda. Se random dan sesingkat apa pertemuan kami yang setelah 5 tahun pun masih meninggalkan bekas.
Dan,,, hari ini. Disinilah gue. Di depan sebuah pusara yang selalu menabur pelajaran singkat paling berharga di kehidupan gue. Gue disini, menggenggam tanah yang gak pernah kekeringan. Yang ditumbuhi bunga bunga sama seperti pemilik nya yang sudah tertidur tenang.
Rama sudah meninggal, tapi jauh selalu meninggalkan bekas. Operasi itu lancar, tapi paru paru nya sudah tidak kuat lagi untuk terus mengeruk oksigen dengan payah.
Di detik detik kepergiannya yang terakhir, dua kalimat yang selalu dia ulang dihadapan gue dengan kekeh walau entah sekejer dan semurka apa perasaan gue sama dunia.
"Terus berjuang bulan, Rama akan selalu ada di sisi bulan." itu, itu yang terus diulang sama bibirnya yang berakhir senyum sebelum dua kalimat syahadat berhasil menggema.
Rama, gue sudah benar benar tumbuh dengan ikhlas hari ini berkat kamu. Bulanmu yang penuh ketidakterimaan sudah mulai menerima semuanya. Semuanya. Dan,,, ya, bulan mu akan selalu menjadi pejuang paling gigih.
Tenang selalu ya ram, semoga kita bisa bertemu dikehidupan selanjutnya.
End
*****
Halo semuanya!
Selamat pagi! Selamat siang! Selamat sore! Selamat malam! Pokoknya selamat bahagia buat kalian semua ya!
Gimana harinya? Saya harap selalu baik dan tetap lancar ya:)
Kali ini kita ketemu dengan sepenggal kisah Rama dan bulan yang mungkin bagi sebagian orang endingnya sangat tidak bahagia, tapi saya gak bisa tau bagaimana dengan isi kepala kamu atas sebait fiksi diatas, entah iya atau tidak, yang jelas ceritanya yang berakhir sedih atau senang, saya yakin Rama dan bulan cukup puas berakhir dengan penerimaan yang pantas dan ikhlas, bagi saya itu sisi penting dari setiap akhir cerita, entah fiksi atau non-fiksi, tapi balik lagi ke isi kepala makhluk bumi yang berbeda, gapapa. saya harap kamu bisa terhiburrr! Sampai jumpa lagi!!
Salam hangat! -moon
Komentar
Posting Komentar