"Antara pulang dan bahagia"
kemarin, masjid ramai sekali oleh orang orang berdatangan.
Amal amal, iman iman, tawa renyah, senyum semenandu, dan ilmu yang bak air berlabuh darinya masih tersisa jelas di sudut sudut kota.
Orang orang yang mengenalnya itu berdesakan, berdesakan berebut doa pada tuhan.
Atas kebaikan yang pernah tinggal di sisi sisi orang tua renta itu semasa hidupnya.
Tetapi kemudian, esok esok.
Dua pemuda dan pemudi. Sepasang itu datang. Mereka menghampiri rumah nenek renta itu yang masih tersampir aura ceria didalamnya.
Mereka hanya diam. Diam tanpa kata. tanpa suasana. Tanpa apa apa.
Memasukinya, tetangga berbisik ke Cang Badrun sambil menyapa.
"Orang yang punya rumahnya baru pulang 2 hari lalu dik" ucap ibu ibu dengan daster batik cokelat latah menahan laju langkah sepasang muda itu yang masih datar bukan kepalang.
"Iya Bu" jawab sang wanita, kemudian kembali berlalu.
Dibukanya pintu yang tak pernah diberi sekat itu, tak pernah dikunci, tak pernah dicaci. Dibuka cepat.
"sudah lama saya ingin jual" lanjut sang pemudi itu. Mulai menapaki rumah.
Ya, ternyata.
Tidak semua. tidak semua yang nampak baik baik saja benar benar baik baik dan saja.
mungkin satu desa mengenal nenek renta itu dengan baik. Dengan bahagia. Dengan sentausa dan ceria. Namun, namun satu dari sepasang itu yang sudah pasti berasal dari rahim sang nenek, darah dari daging sang renta itu.
Justru tidak mengenal orang tua itu dengan bahagia
Lantas dimana?
Dimana kebahagiaan yang kita tunggu2
Dimana kawan yang selalu kita lawan lawan
Dimana lawan yang tak pernah menjadi kawan
Dimana
Dimana kebahagiaan yg sebenarnya kita cari cari.
Selama ini,
Apa.
Atau, tiada?
Ohh, kata nihil lebih susah untuk diperjuangkan sayang.
End
*****
Halo!
Selamat pagi! Selamat siang! Selamat sore! Selamat malam! Pokoknya selamat bahagia untuk kalian semua! Bersua lagi dengan saya moon, di cerpen mingguan.
Apakabar? Bagaimana harinya? Saya harap selalu bahagia ya.
Hari ini saya berfikir antara kepulangan dan kebahagiaan, apa sih yang sebenarnya kita cari didalam hidup? Kebahagiaan? Atau kematian? Apakah kedua duanya saling mengisi? Atau terhambat kata gantung- ya, tergantung.
Komentar
Posting Komentar