Langsung ke konten utama

Cerpen mingguan! "Antara pulang dan bahagia"

"Antara pulang dan bahagia"


Kebun di pekarangan rumah bercat putih biru cokelat itu sudah kehilangan hara bahagianya semenjak seorang nenek tua renta berpulang kehalaman rumah yang menjadi rumah bersama.

kemarin, masjid ramai sekali oleh orang orang berdatangan.
Amal amal, iman iman, tawa renyah, senyum semenandu, dan ilmu yang bak air berlabuh darinya masih tersisa jelas di sudut sudut kota.

Orang orang yang mengenalnya itu berdesakan, berdesakan berebut doa pada tuhan. 
Atas kebaikan yang pernah tinggal di sisi sisi orang tua renta itu semasa hidupnya.

Tetapi kemudian, esok esok.

Dua pemuda dan pemudi. Sepasang itu datang. Mereka menghampiri rumah nenek renta itu yang masih tersampir aura ceria didalamnya.

Mereka hanya diam. Diam tanpa kata. tanpa suasana. Tanpa apa apa.

Memasukinya, tetangga berbisik ke Cang Badrun sambil menyapa.

"Orang yang punya rumahnya baru pulang 2 hari lalu dik" ucap ibu ibu dengan daster batik cokelat latah menahan laju langkah sepasang muda itu yang masih datar bukan kepalang.

"Iya Bu" jawab sang wanita, kemudian kembali berlalu.

Dibukanya pintu yang tak pernah diberi sekat itu, tak pernah dikunci, tak pernah dicaci. Dibuka cepat.

"sudah lama saya ingin jual" lanjut sang pemudi itu. Mulai menapaki rumah.

Ya, ternyata. 
Tidak semua. tidak semua yang nampak baik baik saja benar benar baik baik dan saja.

mungkin satu desa mengenal nenek renta itu dengan baik. Dengan bahagia. Dengan sentausa dan ceria. Namun, namun satu dari sepasang itu yang sudah pasti berasal dari rahim sang nenek, darah dari daging sang renta itu.

Justru tidak mengenal orang tua itu dengan bahagia 

Lantas dimana?
Dimana kebahagiaan yang kita tunggu2 
Dimana kawan yang selalu kita lawan lawan
Dimana lawan yang tak pernah menjadi kawan
Dimana
Dimana kebahagiaan yg sebenarnya kita cari cari.
Selama ini,
Apa.
Atau, tiada?

Ohh, kata nihil lebih susah untuk diperjuangkan sayang.

End

*****


Halo! 
Selamat pagi! Selamat siang! Selamat sore! Selamat malam! Pokoknya selamat bahagia untuk kalian semua! Bersua lagi dengan saya moon, di cerpen mingguan. 

Apakabar? Bagaimana harinya? Saya harap selalu bahagia ya.
Hari ini saya berfikir antara kepulangan dan kebahagiaan, apa sih yang sebenarnya kita cari didalam hidup? Kebahagiaan? Atau kematian? Apakah kedua duanya saling mengisi? Atau terhambat kata gantung- ya, tergantung. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

di suatu kedai pinggir jalan

Di suatu sore, kau mengajakku kencan buta. Sabtu sore yang anggun, malam minggu yang sedikit asing. Kita berputar mengelilingi jakarta yang begitu sempit, bukan karena kejutan, tetapi kau memang dihantui kebingungan. Itu saja. Arogansimu atas laki laki kerap terlaku tinggi, tapi nalurimu akan orang buta kerap membuatku rendah. Tidak apa, waktu itu musim uang baru, memang hanya segelintir yang mendapat, dan segelintirnya aku.  "Uang baru nih" "Wih mana? Mau liat"  "Nih"  Aku seperti anak kecil, banyak sebutan itu bersileweran tapi tak ada yang menggantikan. Uang seribu, cinta samar semalam semu, dan kata "abadi" pada kotak hadiahku.  Tetapi, kita memang terjebak pada jakarta sih. Ya, memang kota sialan itu. Bisa bisanya kita berpisah begitu saja. 

Jim,

Bayanganmu itu, Menggilai aku ya? Bagaimana aku bisa terbuai lagi? Pada kenangan asap rokokmu, Juga lantunanmu yang fana  Belum sempat kudengar kau bersuara  Kau tlah memiliki dua, Kita teralih? Terlalu tinggi~ Sedang botol hijau yang kau belikan tadi malam  Tidak kunjung membuatku pergi  Dari keabadian yang tak membuatku jera untuk lagi lagi meneraka-kan-nya

menolak kegagalan

Entah mengapa menolak kegagalan bisa jadi sedemikian pahit untuk sepotong brownis cokelat bertabur kacang. Entah mengapa, menolak kegagalan bisa sedemikian pisang kuning tak bersemangat yang masam. Entah bagaimana, aku selalu terjebak, pada kemuraman, kegagalan. Dan kesedihan tahun kemarin juga tahun depan. Katanya, mati satu tumbuh seribu, tuhan justru mematikan segala sisa sisa yang menyala. Yang kupikir tak akan redup, yang cahayanya berpendar, sampai sampai aku tidak berkeberatan untuk terlupakan.  Dan senja, potonganmu abadi.  Bersama bayang bayang purnama.  Sayangnya, tak ada yang namanya tukar air mata.  Yah, kak, kita memang sudah terlalu jauh. Dan, memang, membiarkanku terlupakan adalah sesungguh sungguhnya cara untuk mati