Langsung ke konten utama

Cerpen mingguan! "Titik, koma." {pt1}



travelling places is ain't seen you in ages 

but i hope you comeback to me

my mind's running wild with you far away 

i still think of you a hundred times a day


location unknown menggema samar keseluruh sela-sela penjuru ruang tamu flat kecil disudut kota london yang tenang, menggema-gemakan rasa rindu keseluruh arahnya termasuk pada sela-sela isi hati si pendengar yang sebetulnya cuma seorang saja. Gadis itu nampak anggun mengangguk-anggukkan kepalanya tenang memejamkan mata, mendesir desir desauan angin seiringan dengan melodi yang terus membawanya pada kebohongannya sendiri.

Kebohongan yang ia tambal dengan pembenaran basinya yang memuakkan lebih tepatnya, yang nyatanya cukup membuat siapa saja merasa ia manusia paling beruntung sekaligus manusia termenyedihkan yang pernah ada dan dirawat oleh ibu bumi. 

"Nyaa, buat apa sih lo bisa bolak-balik Sidney-London, kalo lo gak percaya sama Tokyo?" berbaur bersama gadisnya yang akrab dengan jendela musim dingin yang dingin, si pemuda membawa cangkir kopi pekatnya lalu bergabung dengan kabung ruang tamu yang basi oleh melodi yang ini lagi ini lagi, ia berhenti, kemudian berdiri menyampingi gadisnya. 

"Maksudnya?" lagu yang terus mengalun itu perlahan terabai, sang gadis menolehkan kepalanya lugu, mengangkat wajah polos penuh lika-liku itu dengan tegap, tatapannya lurus kaku seakan sedang menepis sebuah tuduhan yang baru saja menghujamnya, namun pada raut yang seakan tidak tau apa apa.

"Buat apa lo jadi pembicara sana sini, buat apa lo bisa jadi penulis best seller. tapi lo gak bisa ngomong apalagi nulis kemauan lo sendiri, apalagi kebutuhan lo sendiri di dunia nyata." ia mengangkat cangkir kopinya keatas udara yang dingin. 

Berdiri menjuntai, masih dengan raut yang sama ia menghampiri pemudanya, "Maksudnya apaansih? udahlah satya, libur tuh buat santai. Gak perlu mikirin apa yang gak perlu dipikirin"

Keluguan dan kebohongan yang berjalan lurus itu masih dipegangnya teguh. 

Asal kalian tau saja, entah sudah berapa lama kebohongan itu terus ia genggam pada sudut bibir dan hatinya yang tak pernah jujur itu, sewalaupun lagu yang terus ia putar bermakna memarah dan mencacinya habis- habisan untuk menjawab segala pertanyaan yang bahkan ia tak tau dimana letak tanda tanyanya sendiri. 

Ruang yag tadinya kosong dan abu itu, memanas dalam sekejap. Melodi demi melodi yang mengalun tiba-tiba tak mampu menghadang hawanya yang kalap, padahal bulan ini adalahh awal musim dingin di London.

"Lo bisa keliling dunia, tapi rumah yang lo cari itu di tokyo kan? lo tau tapi lo gak mau tau Nya, udah kali udah 5 tahun lo bohong ke semua orang" jangan lo pikir karena lo terus terus melihara semua idealisme bangsat lo di bumi lo bisa buat semua orang senang. semua yang lo cari udah ada di tangan lo kecuali dia kan?. gue muak liatnya angellina zefanya! muak sama setiap kebohongan yang udah kayak kolam tapi terus terusan lo tambal pake pembenaran bodoh, padahal lo tau kolam itu bakal tetap berlubang walau gak ada yang nyadarin termasuk diri lo sendiri.

Entah darimana datangnya, biasanya Satya tidak pernah seperti ini. 

Gadis itu mengggeleng, merubah alur rautnya serupa benang benang yang kerut mengerut diatas alisnya yang legam, mebentuk tanda tanya besar yang linglung. Namun, lagi-lagi tidak ada yang bisa membohongi keluguan itu sendiri selain Satya. "emang gue nyari siapa sih?", balasnya mengangkat tangan, menaikkan bahu, dengan nada lugu.. 

"hhhh!" pemuda itu meletakkan secangkir kopi yang digenggamnya keatas nakas, meletakkan kedua kepalan itu diatas sofa abu abu monokrom yang membatasinya dengan raut frustasi, ia lelah. lagu yang sengaja dipasang untuk diulang itu menyiksa dunia didalam kepalanya dengan hampa "KALO GITU STOP DENGERIN LOCATION UNKNOWN!!" gelas yang tadinya tersimpan rapih itu ia hempaskan dari nakas yang tak mampu berbuat apa apa di sisinya, sama seperti sang gadis yang hanya enatap nanar aapa yang didenagr maupun dilihatnya saat ini. 

tidak ada kata lari disana, tidak ada kata elak lagi disana, termasuk semua pembenaran yang tertahan telak di sela sela tenggrokkan nya yang kelu, ia seperti ditelanjangi habis hingga bahkan bukan lagi tulang yang tertampak, namun semua alur dan jalanan pikiran yang dilewatinya seperti terbogkar tanpa bisa ia beri pembelaan plagi, entah sudah berapa lama, ia tau, bahkan siapapun tau ia hanya hiidup dengan berlari tanpa mau menoleh ke mannapun, semua manusia didekatnya tau amun tidak ada yang menyuruhnya untuk berhenti dan kembali ke rumah, sampai pada pagi ini, di desember yang cerah namun membekukan, tidak ada lagi kata naif di ssela sela mata pemuda yang berdiri bergetar menahan emosinya untuk menghancurkan isa dunia. 

satu dua tetes air mata jatuh, 

aiir mata lainnya menyusul. 

tepat itu, sang pemuda memluk gadisnya yang diam. memeluk kemudian didetik selanjutnya ia menghempaskannya dan segera berbalik dibalik daun pintu dengan ejuta perasaan pagi yang tak terpenjara di seal sela hatinya yang balau. entah apa yang terjadi, sebagian hati pemuda itu kalut, sebagiannya lagi memilih untuk berakta bahwa harga lega yag mahal harganya itu mampu ditebus lewat kalimat demi kalimat yang ia alirkan barusan, 

namun si gadis, ia masih terdiam di ruang tamu flatnya yang sarat akan mookrom hitam putih. 

berkeliling dalam isak. sebuah foto yang terantung disana ikut memaksa air matanya tumpah lebih banyak lagi, foto itu mengisyaratkannya untuk tidak lagi berbohong di balik batu pembenaran yang sudah tdak bisa lagi digunakan karena di tengah tengah batu itu, kejujuran telah menghancurkan separuh bahkan semuanya dari dirinya sendiri.

sudah, sudah saatnya ia pulang. sudah saatnya ada tanpa titik diatas semua pencapaian yang ada ditangannya saat ini. 




....





"perjalanan lo udah terlalu jauh, its time t go home, and find your home, gue tau dibalik fiksi lo masih menyimpan non fiksi itu kan? dan tokyo itu nyata." 

"harus ya?" london heathrow yang ramai namun sepi membiarkan ia memperlakukan kalimatnya barusan dengan apatis, dengan tanpa memikirkan apa yang sekiranya bisa ia impikan. bandaran london seakan mendiamka hatinya yang penuh tanda tanya sekaligus bom waktu yang bisa membuat jantungnya berdegup kencang kapan saja, bandara london yang bising hari itu, memaksanya pulang, mengisyaratkannya pulang, juga membiarkannya untuk memutuskan pulang

"nya.. gue gak mau deh tempramen gue minggu lalu meledak disini" satya memandang gadis itu dengan sepasang bola matanya yang begitu teduh namun tidak ikhlas. memegang kedua bahu gadis itu, ia berujar kembali "udah waktunya pulang. Udah gak ada lagi tanda koma, yang kita butuhin cuma tanda titik pada paragraf London, buat ketemuan Lo lagi sama Tokyo." 

"emang harus banget apa? Tanda koma sama titik itu kan gak wajib sat" tanya nya sekali lagi sebab kalut kembali mengasai pundaknya. lewat tatapan satya, london heathrow tidak terdengar lagi biskkannya. riuh redan heathrow yang sibuk semakin sama sekali tidak ia pedulikan. ingatan kata tentang kepergian dan kepulangan merayapi bahu nya yang kini tersandar skeptis dan malas untuk melangkah, namun sorot mata pemuda dihadapannya memang telak lagi lagi megupas habis pembenarannya yang basi, pembenaran yang tidak bisa ia gunakan lagi untuk melindungi ego nya sendiri. namun lagi lagi,, haruskah dan benarkah ia menancap tanda titik pada kalimat ini?  

sekali lagi, ia menatap nanar pada pemuda yang menatapnya tajam tanpa bis aia artikan makna tatapannya, "emang gue harus pulang ya? Harus pake tanda baca?" 

menghembuskan nafasnya dengan lekas, satya menjawab "disana ada pesta kem;ang api, timing yang pas banget buat lo ketemu lagi sama dia, kan? pertemuan pertama lo" kedua bola mata itu menangkup legam yang menusuk ke ulu dan hati, satya menguatkan lagi genggaman tangannya, 

"tapi sat... kayaknya dia bukan rumah, kayaknya gue sama dia udah teralu basi dikehidupan kita masing masing. ya kan?"

"kalo emang udah basi, trus kenapa gak ada yang bisa bawa lo pulang?, bukan mantan lo, bukan gue... karena cuma dia... gue cape liat semua kebohongan yang selalu lu tumpuk sama semua cerita ambisius lo nya, gue cape liat lo ngerengek sama lagu yang udah neriakkin lo tapi lo gak mau jalan! udah,,. udah kali meromantisasi perasaan sendiri,"

dahi gadis itu mengernyit, balik menusuk kedua bola mata pemuda didepannya yang kini terengah engah menyelesaikan kalimatnya. 

"satya,,,? lo suka sama gue?!" 

Telak, bumi terlalu kuat untuk kalap. nafas yang terengah engah itu meluap habis dari jantungnya, kedua tangan dipundaknya ia hempaskan begitu saja kemudian. hinga akhirnya pemuda itu menjawab, menaikkan sebelah alisnya, "anya angelina zeffanya," kemana aja Lo selama ini? "jadi lo suka sama gue?" 

"sat? apasih? gue nanya sama lo, kenapa lo malah balik nanya coba? jawab gue, itu aja"

_ya, apalagi?_

"gue temen lo dari semenjak kita keterima di oxford,, lo partner gue gue pun. kalo emang iya! gue suka sama lo, kenapa gak dari dulu aja coba, gila lo ngelemparin lawakkan kayak gitu nya? hahha" anya cuma menjawab pernyataan yang baru keluar dari bibir pemudanya dengan sinis, benar si kalau memang pemuda itu menyukainya adalah penyataan yang cukup tidak masuk akal, cukup gila dan aneh. lagi, kenapa pula harus jatuh cinta pada dirinya yang selalu menjadi manusia tidak jelas ini, tentu saja satya memasang selera yang tinggi jauh daripada dirinya, haduh... 

setelah sekali lagi memastikan, gadis itu benar benar terbang, pesawat akhirnya tega tak tega membawanya bersama melepas landas dari bandara yang selalu akrab dengan kata pergi dan pulang, 
memang ia pergi dari hati satya, tapi ia pulang pada hatinya sendiri. 

dan bandara yang dingin pun bising menyisakan satya, lelaki sekelam dan setenang malam itu membuka hatinya lapang, selapang penantian purama pada bintang yang rela selalu bersama walau tak kunjung bersatu,. "tenang nya,,, masih ada tanda koma yang bisa diusahain"

,dan london pergi jauh meninggalkannya menuju tokyo. 



.... 



11 jam panjang yang tidak membawa salah seorang penumpang dari london heathrow itu akhirnya menepi, memaksanya berhenti pada haneda airport yang sibuk dan apastis. meski begitu, di matanya jepang tetap menyambutnya dengan ramah, memperlakukan raganya layak selayaknya ia benar benar di jepang dan tidak tersesat, walaupun sebenarnya siang ini adalah perjalanan rute yang sengaja tersasar, ya.. rute tersasar meski katanya untuk menemukan rumah. 

namun, begitu musim dingin menyambut raganya yang dilapis beberapa pakaian itu, tokyo menggugahnya. seperti sebuah tamparan, sesuatu menyadarkannya.

_tidak ada siapa siapa disini._ 

Tidak ada wajah apa apa di setiap lika liku yang langsung menetap tetap di wajahnya. jadi, sebelum ia semakin merasa tersesat pada kota asing ini, gadis itu segera berlalu kembali menuju terminal bis YCAT, menaiki rute bus menuju yokohama, menuju pantai ditempat semua orang jatuh cinta. namun musim ini, biar.. biar ia yang jatuh cinta sendirian disini. 

sesaat setelah bis yang ditumpanginya melaju, gadis itu menyenderkakn kepalan kepalanya pada jendela bis yang berembun dan lagi lagi beriman dengan kata apatis. entah karena jepang atau musim dingin, tapi pikirannya kini memperlakukannya dengan hampa. 

memasang earphone, dengan sengaja ia mengotak ngatik letak lagunya yang hanya berisi 5 lagu itu, menyetel salh satu lagu yang cocok dengan latar hari ini, back to december. lagu yang tak pernah dissentuhnya lagi semenjak location unknown menjadi shalawat wajib di setiap hari minggu dan waktu senggang pun waktu kebohongan. sembari melihat lihat kearah luar dari jendela yang melihatnya saja seperti sudah mampu membekukan siapa saja.

namun, pada sebuah pohon yang bertegger bersama tongkat kayunya yang tak berbaju, wajah satya tiba2 muncul disana, anya mengerjapkan mata berkali kali, sampai jendela yang disenderinya ia usap-usap dengan jaketnya, tapi bayangan itu tidak hinggap dalam satu pohon saja. wajah satya kembali muncul dibayangan berikutnya sperti watermark disebuah foto yang transparan. entah logika siapa, ia kembali mengucek matanya.

tidak ada apa apa ketika itu, ia cuma bertanya tanya mengapa ada bayangan wajah pemuda yang dingin dan selalu meperhatikannya seperti ibu itu di kota ini? ia cuma bertanya mengapa tiba-tiba semesta memberikan bayangan itu padanya. 

ya, satya adalah salah satu temannya dari indonesisa, mereka lulus 1,5 tahun lalu. sama-sama membangun karir di kota impian sejuta umat, london yang ramai. 

kira kira sudah 4,5 tahun ia hidup ditemani oleh satya, satya adalah satu mahasiwa yang kala itu tak sengaja ia temukan hampir mati kedinginan di tahun yang sama ketika ia menjadi maba, di salah satu bangku taman yang membeku, ia kebetulan lewat dan menemukan seorang pemuda dengan khas wajah indonesia sedang terkulai di salah satu rumput yg putih, dan sejak saat itu ia bersahabat baik olehnya. anya membantu satya, dan satya selalu meperhatikan kehidupan serta melindungi kehidupan itu. satya adalah satu dari sebagian alasan ia lebih banyak mengamini london untuk menjadi tempat tinggalnya daripada kota manapun walau sebenarnya yang ia butuhkan tidak hanya tempat tinggal, tapi tempat pulang. 

satya. satya. satya, nama itu membawanya terbang tak tentu arah hingga 30 menit kedepan, hingga ia sampai di yokohama yang sara akan perayan kebahagiaan, sampai seorang resepsionis membawa satu kopernya yang enteng, memperlakukannya lagi lagi persis ketika semua mengira ia tak salah arah, bahwa ia benar benar di jepang. 

satya. 

salju didepan kamar hotelnya yang turun konstan itu ia main mainkan tanpa menyentuhnya langsung, 

"satya" katanya mengulang perkataan dalam hati. 

detik selanjutnya gadis menggeleng, mengelak dalam elak. "kemana gue harus nemuin gilang sat, tokyo terlalu luas, terlalu hampa" katanya seakan ia berbicara 4 mata. akhirnya ia membulatkan keputusan mengambil handphone yang hanya beralaskan casing transparan cuma agar benda itu tidak kotor. memilih salah satu nama di daftar panggilan wa-nya yang mbludak pekan pekan ini, kemudian menekannya. sambil menekan, ia beralih pada fitur status wa yang ada diantara room chat dan room panggilan. memotret jendela kamar hotelnya yang memadukan perlombaan perihal salju mana yang akan lebih dulu sampai. menambahkan sedikit caption, menunggu si penjawab menjawab dering telfonnya. 

"halo" seakan dari alarm, satya segera menjawab dari sebrang sana, suaranya yang buyar seperti orang habis tidur setelah semalaman penuh kelelahan itu meyambutnya, 

gadis itu tersenyum kecil, "udah sampe?" lanjut si penyebrang dari london yang sama dinginnya dengan yokohama 

"uda" jawab gadis itu seadanya sambil tak kunjung meberhentikan senyumnya, 

"masih pagi ya?"

"iya jam 9. disana udah malem ya?", terdengar jawaban seperti anggukan dari satya di sebrangnya

 tak lama, anya kembali bersuara "udah lama ya sat," lanjutnya 

"udah lama kenapa?"

"udah lama gue gakngeliatin saljuturun, padahal indah banget kalo dilhat lihat" suara serak dari sebrang sana menyambutnya dengan balutna tawa kecil "kirain mau misuh sampeharus nelfon saya" 

""ya... juga sih"

mencebik kecil, lelakiitu melanjutkan"dikira gue ini tempat penampunga misuh kali ya, kenapa?" 

"gue... gue harus pulang kemana si sat?" 

TRINGGG ! sebuah notif masuk ke room chatnya, namun gads itu tidak peduli, perssetsan ia sudah mengambil jatah cuti dan liburnya. tidak ada yang boleh mengganggu jepangnya hari ini. lama satya terdiam beberapa saat, hingga suara anya kembali menegurnya yang diam "sat? masih disana kan?" 

terkejut kecil, pemuda itu membuang nafasnya perlahan, kemudian baru menjawab "lo harus pulang keorang yang buat lo betah masih ada di bumi nya," 

"gi..lang?" terbata kecil, salju didepan matanya begitu ia abaikan setelh nama itu berhasil lagi lagi keluar dari kerongkongannya. 

satya kembali terdiam, hingga akhirnya manusia yang baru setengah sadar dari tidurnya itu berkata "siapapun,". setelah berbincang beberapa saat, telfon dipurus, anya terdiam dengan kessendiriannya dan salju jepang yang menyambutnya tanpa tanda apa apa, sedang satya terdiam memikirkan bagaimana tokyo akan memperlakukan gadis yang amat disayanginya itu. 

semua bintang bintang dan matahari menonton mereka dalam biliknya masing-masing, sesekali berbisik dan berteriak, namun location unknown lebih terdengar meriah di seluruh penjuru kamar sang gadis, dan kesunyian juga justru bersinar meriah pada kasur dibalik selimut sang pemudanya. mereka seperti 2 raga yang diapaksa oleh semesta tanpa kisi kisi. mereka seperti dua penantian yang entah sedang menunggu apa untuk menjemputnya. mereka sdua anak manusia, yang salig jatuh cinta didalam keberbedaan pengertian. 

dan musim dingin yang menghantui desember ditangal 27 tidak lebih dari tidak membisikkan apa apa setelah dering telfon itu menghabisi suaranya sendiri, salju dari jendela cuma menyisakan hampa dikedua belah pihak yang tampak seperti kedua orang lumpuh yang dipaksa menyusuri jurang penantian. hingga malam sama sama berlabuh di waktu nya masing masing, kedua raga itu sama-sama tak bisa menjawab pertanyaan dan pernyataannya sendiri.

...



setelah berpusing diantara hotel, pencarian yang bohong, penantian, dan keputusasaan yang memang sejak dulu sudah putus, tanggal 31 tiba melewati anya dan hatinya yang kelam. telfonnya sejak kemarin ia matikan setelah dua fitur yang digunakannya, yaitu snapgram untuk menangkap salju yang kerontang juga telfon satya, hp nya ia simpan setelahnya tanpa nafsu apa apa. tampaknya, fiksi fiksi tentang kepulangan, harapan harapan seperti di novelnya sendiri, pada film, pertemuan tiba tiba, itu semua tidak ada dialam nyata. tidak pernah ada. 

sembari berjalan menyusuri pantai onjuku beacj yang dingin, waktu senja yang dilaluinya tenggelam pesimis dengan bayangan tulisan happy new year pada tokyo sky tower malam nanti. 

ia memutuskan ingin berhenti sejenak, namun waktu tidak, juga kenangan senja disukmanya.

Onjuk beach yang dingin dan beku begitu saja mengganti latar tempat, latar waktu, namun tidak dengan latar perasaan yang sama pada senja yang ada dihadapannya menuju salah satu senja kesayangannya; Pangandaran dan pasir putihnya diiringi tawa sepasang anak manusia. 

Ya,,, onjuku beach mampu begitu saja mengubah latar pemandangan itu terpampang jelas didepannya, namun ia dan pantainya disekujur Chiba yang dingin tidak mampu menyamakan perasaan yang sama pada kenangan itu. 

Memory stay, but people go. Juga kini hati dan perasaannya sendiri.

sama seperti hari itu yang sepi dan sendiri, situasi senja kali ini sama sama tidak menunggu siapapun atau memperlama durasi metafora indahnya agar pengunjung yang baru sampai bisa sempat menikmati masih terpampang hangat. Matahari terbenam begitu saja melewati netranya yang kini mulai meredup kehilangan harap.

ia membayangkan kembali kelananya sendiri pada senja yang sama, dengan perasaan cinta. ya... keduanya sama sama akan tetap terus berlalu.

'Cinta dan senja. mereka adalah 2 kata yang tak akrab dengan persekutuan waktu', 

anya masih setuju denga pernyataan itu, sebab mau tidak mau memang nyatanya 2 hal itu tetap berlalu walau alam semesta berdarah karenanya, atau bahkan walau seorang manusia didalam bilik jendela kehilangan harapnya, mereka akan tetap berlalu pada pertemuan singkat namun dengan kenangan dan perasaan senang yang sama-sama panjang. mereka sama, dan selain setuju, anya juga masih membenci keduanya,,, 

sweet creature

sweet creature

where ever i go

you bring me home~

alunan musik itu menggema pada kepalanya, tanpa apa apa namun bisa terdengar halus didalam hatinya sendiri, sekenaan dengan pasir putih yang dipukulnya dengn jerih. ia kesal, karena cinta dan senja tidak mau menunggunya lebih lama, 

namun mengabaikan kekesalannya, lagu yang menggema dikepalanya justru kini menamparnya..
ya... benar, kemanapun ia pergi, tetap gilang yang akan membawanya pulang. 

"anyaaa!"



....

Hallo!!! 
Selamat bersua kawan kawan!
Terimakasih sudah mampir:)
Perihal visual, bisa memilih seleranya masing masing. #fiksi

-salam hangat, moon

*Ps: Untukmu, semoga kisah kecil ini bisa lekap abadi di hati saya. Pun jua kamu. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

di suatu kedai pinggir jalan

Di suatu sore, kau mengajakku kencan buta. Sabtu sore yang anggun, malam minggu yang sedikit asing. Kita berputar mengelilingi jakarta yang begitu sempit, bukan karena kejutan, tetapi kau memang dihantui kebingungan. Itu saja. Arogansimu atas laki laki kerap terlaku tinggi, tapi nalurimu akan orang buta kerap membuatku rendah. Tidak apa, waktu itu musim uang baru, memang hanya segelintir yang mendapat, dan segelintirnya aku.  "Uang baru nih" "Wih mana? Mau liat"  "Nih"  Aku seperti anak kecil, banyak sebutan itu bersileweran tapi tak ada yang menggantikan. Uang seribu, cinta samar semalam semu, dan kata "abadi" pada kotak hadiahku.  Tetapi, kita memang terjebak pada jakarta sih. Ya, memang kota sialan itu. Bisa bisanya kita berpisah begitu saja. 

Jim,

Bayanganmu itu, Menggilai aku ya? Bagaimana aku bisa terbuai lagi? Pada kenangan asap rokokmu, Juga lantunanmu yang fana  Belum sempat kudengar kau bersuara  Kau tlah memiliki dua, Kita teralih? Terlalu tinggi~ Sedang botol hijau yang kau belikan tadi malam  Tidak kunjung membuatku pergi  Dari keabadian yang tak membuatku jera untuk lagi lagi meneraka-kan-nya

menolak kegagalan

Entah mengapa menolak kegagalan bisa jadi sedemikian pahit untuk sepotong brownis cokelat bertabur kacang. Entah mengapa, menolak kegagalan bisa sedemikian pisang kuning tak bersemangat yang masam. Entah bagaimana, aku selalu terjebak, pada kemuraman, kegagalan. Dan kesedihan tahun kemarin juga tahun depan. Katanya, mati satu tumbuh seribu, tuhan justru mematikan segala sisa sisa yang menyala. Yang kupikir tak akan redup, yang cahayanya berpendar, sampai sampai aku tidak berkeberatan untuk terlupakan.  Dan senja, potonganmu abadi.  Bersama bayang bayang purnama.  Sayangnya, tak ada yang namanya tukar air mata.  Yah, kak, kita memang sudah terlalu jauh. Dan, memang, membiarkanku terlupakan adalah sesungguh sungguhnya cara untuk mati