mendekap seorang gadis yang berlalu begitu saja melewati senja, pemuda itu mendekapnya erat tanpa pembelan bagian dasi dan topi apalagi tangannya yang dipenuhi garis garis bekas pegangan kuas atas lukisan yang selalu bertema sama.
dua raga itu,,, dan senja onjuku beach serta akhir desember mendekapnya erat dengan haru, kehangatan menyelimuti keduanya, tidak ada musim dingin disini, tidak ada musim bohong disini, yang tersisa hanyalah pantai dingin yang dihujani cinta dan kejujuran.
"lo bo.. hong" malam menyelimuti seluruh dan seisi perfekture Chiba lewat tatapan yang membias pada air laut, anya memberanikan diri menatap mata pemuda itu.. masih dengan tatapan yang sama, masih dengan perasaan yang sama, hatinya yang membeku selama 5 tahun itu seperti air beku yang kembali mencair disiram kehangatan sinar didalam lekappan pemuda yang masih terbata mengeja nama depannya,
"zeff.. zeffanya?"
Bergemericik air mata jatuh terus menerus bersama juga reruntuhan hujan cinta yang hangat di harinya yang dingin, menghujani kedua hati yang tengah berdiri berhadapan disana.
sambil terisak, anya mengangkat kepalanya, menatap lagi pemuda itu bersama perasaan yang entah sudah bercapur menjadi apa saja "lang lo bohong", katanya kesal. "lo bohong buat gak pernah nemuin gue lagi lang!!"
Kamu yang bohong untuk tidak pernah ke tokyo zeffanya, kamu yang bohong sama saya.
"kenapa lang? kenapa lo bohong?" namun pemuda itu sama sekali tidak menjawab semua kata yang masih terlontar dari bibir gadisnya, ia hanya merengkuh tubuh mungil itu dengan haru setengah mati juga perih setengah hidup yang kini merayapi sekujur tubuhnya itu. untuk apa semua Penyamaran nya pada dunia selama ini ia lakukan, untuk apa tokyo dan segala rahmatnya sudah membawanya bahagia dengan semua wujud perjuangan abstrak, kalau ujungnya gadis yang kini direngkuhnya justru kemari meluluhlantakkan semua tembok dan jerih payah yang ia bangun selama ini, apakah dewa dewi atau tuhan sekalipun mengingkari temboknya? oh tidak,,, bukan temboknya, tapi dewa dewi itu mengingkari doa dan kebohongannya sendiri kali ini.
lama mereka berpelukan di tengah onjuku beach yang tak terlau ramai hingga salju menempel sedikit di masing masing jaket keduanya hingga mereka akhirnya memutusan melipir sebentar ke sebuah kedai dekat disana.
masih dengan tanpa kata kata, pesanan keduanya tiba di meja masing masing, sang pelayan mengucap kan selamat makan sekali kemudian segera berlalu. semangkuk ramen untuk anya dan gilang yang hanya memesan cokelat panas duduk berhadapan, keduanya sama sama diam seakan diam dan saling tatap adalah makna penyampaian yang terlalu banyak ingin disuarakan, atau kegiatan diam dan saling tatap adalah kegiatan favorit keduanya, maka suara bukan satu kesatuan yag penting dalam setiap pertemuan bahkan hingga pesanan di meja sam asama habis. mereka masih diam.
setelah pantai dingin yang hangat dan mengharukan serta semangkuk basa basi yang diam, keduanya memutuskan bergandengan menyusuri perfektur chiba lalu naik angkutan umum disana dan pergi memutuskan mengakhiri malam menuju tokyo.
seluruh sudut jalan di tokyo atau dimanapun mulai setia membaui malam dengan suasana pulang kampung, rumah rumah penduduk beberapa ramai diisi meja meja panjang dan tawa hangat seakan mereka merayakan hari raya selayaknya natal atau idul fitri,
Malam yang pulang, batin gadis itu sembari melihat langit tokyo yang benderang dan nyaman.
dari sejak awal bertemu, tidak ada keasingan diantara keduanya, yang ada hanyalah kenyaman dan kebisuan, juga pertanyan yang masih tidak akan terjawab entah sampai kapan. lampu warna warni ssesekali yang tergantung di rumah penduduk sesekali berpendar di mata keduanya,
setelah berpusing sebentar, akhirnya keduanya itu memilh menghabisi malam ke sebuah bangunan susun yang terletak tidak jauh dari tokyo skytower, mengapit dingin yang hangat sembari menanjak setiap undakkan menuju bangunan yang ada di paling atas dengan sabar. dengan diam.
setelah sampai keatas dan membuka pintu rumahnya, pemuda itu melepas jaket, menyisakan kemeja biru lautnya, kemudian menggandek telapak tangan mungil gadisnya kemudain membawanya menuju tepi pagar. jam menunjukkan pukul 23.30 di handphonenya.
"zeffanya, kenapa kamu kesini?" tanyanya setelah duduk, namun anya hanya diam dan gilang membiarkan. tak lama kesunyan menyisakan lapu lampu rumah penduduk yang berpendar ccantik dari atas sini, dan anya masih diam. sesekali ia bersenandung kecil sambil bersendder di bahu pemudanya, beberapa menit ia kemudian berdiri "numpang ngecash ya?" katanya kemudian masuk begitu saja tanpa persetujuan dan segera kembali dengan cept ke tempat nya semula.
"lang?"
"ya?"
"kamu disini sejak kapan?" pemuda itu hanya tersenyum, menghitung sudah berpa tahun ia di kota yang membawanya pulang ini, ya... sudah sejak kematian orang orang tersayangnya juga kematian hatinya, "5 tahun" jawabnya menoleh,
"kenapa masih tokyo lang? karena janji gue?"
"kamu sendiri ngapain ke tokyo?"
"karena janji gue yang gabakal nemuin lu lagi kan? makanya tokyo aman? jawab gue!, 5 tahun gue kabur kaburan nolak banyak hal buat dateng ke jepang. karena semua janji itu" tidak ada nada marah disana, tidak ada nada haru disana, semua nada yang terdenga hanya berbunyi rata dan konstan hambar begitu saja.
"kamu tau kenapa saya masih disini?" pemuda itu berlalu, masuk kerumahnya dan kembali bersama sebuah buku yang tersampul rapih nnamun lecak disana sini. melanjutkan ia meremas buku itu dengan kalap "karena ini anya angelina zeffanya,, karena janji janjimu disini. saya sadar ini bukan fiksi, ini nonfiksi nya. nonfiksi. kamus salah melabeli"
angin yang dingin membawa kata katanya yang kalap, ia kembali duduk disebelah anya yang masih terdiam, sementara waktu terus berdentang dan pergantian tahun sebentar lagi menyambar, sedang anya hanya membalas jawabannya dengan diam.
"kenapa percaya?"
"udah enggak nya.. udah enggak sampe tadi sore saya lihat kamu berdiri di pantai chiba, sampe kamu mau pulang dan saya tidak sanggup menaahan ketidakyakinan saya dan memeluk kamu"
00.00
cinta yang menghujani tokyo nakam itu menghantui semua pelupuk mata ditahun yang berganti. semua yang ada disana menatap terpaku pesta kembang api sky tower yang mulai sambar menyambar mewarnai langit malam tokyo pada musim dinginnya, juga tulisan Happy New Year di Tokyo skytower yang segera menyala dan kelihatan dari seluruh penjuru itu.
"selamat tahun baru, buat kita" ucap sang gadis menatap pemudanya,
tahun sudah berganti, mengubah dua angka terakhir di ujungnya, namun persaan keduanya di sela sudut tokyo tidak juga berganti. seperti musim dingin yang akan selalu setia pada dinginnya, setiap novel yang dituliskan pikiran anya seakan sedang menerbangkan setiap kata kata dan kalimatnya sendiri malam itu, pada desember yang dingin, detik yang dingin, dan tokyo yang dingin, sesaat perlahan mereka menjelma menjadi kehangatan, dua pelukkan itu bersatu membagi kasih nya dalam berkasih. lama mereka saling mendekap seakan tidak ada hari esok untuk menetap.
sekali lagi membuka mata, beberapa menit kemudian keduanya terlelap pada bantalnya masing masing, kemudian jatuh pada pelukan kasur sembari mengenang tokyo yang dihujani cinta malam ini, yang kelak membiaskan tanda bahagianya di sekujur hati mereka yang meleleh di tengah rintikkan salju.
....
pagi yang cukup melegakan, anya bangun dari tempat tidurnya dengan sedikit linglung sembari mengingat kejadian tadi malam, kejadian yang hanya akan ia dan gilang yang akan terus mengingat dan mengenangnya. berjalan menuju dapur kearah semestinya, ia menemukan pemuda semalam itu disana sedang sibuk mengaduk sesuatu didalam panci, beberapa tetes air mengalir dari ujung ujung rambutnya yang masih setengah basah. "Eh nya, akhirnya bangun..." ucapnya tersenyum, yang juga dibalas anya dengan senyumannya.
setelah habis bersiap dan mandi, anya kembali ke dapur dan mendapati ruang makan sudah siap akan semuanya, angin yang dingin sibuk beberapa kali bertabrakan dengan asap makanan yang masih menghangat diudara, sesekali ia menoleh keluar jendela, masing masing menyendok piringnya.
"mmm masakkan kamu enak juga ya?" ucap anya setelah mencoba kuah kari kecil didalam bentuknya, "enak banget malah!, jadi jago masak semenjak di tokyo?"
pemuda itu tersenyum kecil "udah daridulu jago masak, cuma gak pernah ngasih tau siapa siapa aja"
"kok gak pernah cerita?"
"nanti kamu nandingin masakkan saya lagi, ya kan kita sama sama tau diantara kamu sama saya, kamu adalah yang paling jago soal apapun yang kamu mau"
"kita berjuang buat hal hal yang kita sukain kali lang"
"sama ya?"
"maksudnya?"
"sama kayak kamu yang berjuang menemukan saya lagi di kota ini?" ia tersenyum kecil, menunduk kearah mangkuknya. meneruskan makan. sedang, anya cuma terdiam mendengar kata katanya karena tidak ada cara untuk mengelak, bukan?
setelah makanan kami habis, gilang terdengar berbicara pada rekan di telfonnya menggunakan bahasa jepang yang fasih, anya tidak mengerti, bahasa jepang yang dulu dipelajarinya sudah lama hilang sebab ia sudah sibuk tenggelam pada kesibukan London yang tak pernah berhenti berpijak.
Setelahnya mereka keluar, berjalan menuju hotel anya di yokohama, membiarkan beberapa menit bersiap dan membawa beberapa hal kemudian kembali mengikuti langkah gilang yang tidak terburu buru dan santai, mereka kemudian naik bus dan gilang membawa anya pada Ueno PARK yang sedikit ramai.
cuaca hari agak lebih dingin daripada cuaca kemarin, keduanya merapatkan syal dan menggandeng lengan satu sama lain. mengikuti kemanapun alurnya melangkah.
"ngapain kesini?" ucap sang gadis, duduk di salah satu bangku taman. matahari sesekali mengintip dibalik rerantingan pohon, menapaki sinarnya yang malu malu dan dirndukan banyak orang, tapi sang gadis maupun pemudanya tidak masuk kedalam hal itu. sebab, keduanya sams am mencintai waktu, sama sama mencintai apa yang terjadi hari sekarang.
gilang yang masih berdiri menjuntai membiaran kancing jaketnya yang tidak tertutup rapat, ia membiarkan dinginnya jepang membasahinya karena sedingin apapun tokyo membekukan semua hal, gadis didepannya akan selalu tetap menghangatkannya, "ini tempat favorit saya kalalu saya lagi mikirin kamu" kemudian lelaki itu ikut duduk disamping anya, mengamati taman yang ramai dengan dua anak kecil yang bekerjaran, dua manusia yang sedang naik perosotan, ibu ibu yang sedang duduk ramai ramai menjaga anak mereka untuk tetap aman, UENO Park menuntun keramaian itu dengan membungkusnya pada bilik pemandangan yang nyaman, senyaman pulang pada rumah yang dihadiri tawa canda keluarga.
"memang, masih suka mikirin?"
"sebenarnya, setiap saat, tapi says lebih memiliih sibuk aja selam ini, kalau sudah trlalu sesak saya kemari esekali kemudain ngebayangin masa kecil kita di taman..."
"batu?" ya, anya masih mengingat jelas sesekali tempat itu, tempat ia sebagian besar merajut masa kecilnya.
"jadi disini yang terjebak itu saya atau kamu sih nya?"
"kita lang, kita"
tidak ada apa apa lagi hari itu hingga sore tenggelam kembali pada pelukan pantai yokohama yang penuh oleh lalu lalang orang jatuh cinta.
"lang" di malam yang dingin, setelah seharian kenyang oleh senyuman dan tatapan anya membuka suaranya pada sandaran hati sang pemuda yang hangat, se hangat hati dan cahaya rembulan malam ini.
"ya?"
"dulu aku fikir perpisahan kita itu akhir dari segalanya, dulu aku fikir kamu bukan jawaban apalagi rumah, ya... rumah mungkin sih, tapi mungkin lebih ke rumah singgah yang nyaman tapi ujungnya bukan buat aku lang. dulu kufikir gitu,, dan ternyata cinta cuma bercandain perasaannya sendiri, semesta kayaknya gak seserius itu. perpisahan kita tuh ternyata cuma persimpangan doang yang akhirnya... ujungnya... mempertemukan kita lagi" ia menoleh, kedua netra itu masih sama, masih menatap tulus pemuda disampingnya tanpa tuntutana apa apa. yang jelas, gadis itu mengerti perasannya yag ta jelas kini tengah benar benar bahagia.
gilang membalas tatapan itu, ia mengusap helaian rambut yang tersampir di bahunya dengan lembut, ia tau betul gadisnya amat bahagia seharian ini diajak berkenalan dengan dirinya yang masih sama sejak 5 tahu lalu.
ya, masih lelaki tanpa senyuman yang sama seperti lima tahun lalu, dan anya tetap mencintainya. Gilang juga tau itu.
"nya" suara gilng pecah, memecah kesunyian malam dan deburan ombak di tenda mereka pada asir pantai yokohama yang tetap ramai.
"ya?"
"ngga jadi deh, nanti aja" gilang tau ia masih tak tersenyum, ia tau tapi kini ia tau alasan apa dbalik malamnya yang bahagia ini tdak dihadiri bulan sabit sedikitpun. tapi lagi lagi anya hanya mengaminkan apapun yang menjadi pilihan pemuda itu untuk dilakukan.
"gue belom buka hp udah lama, bentar ya" ia merogoh tas nya yang mungil, membuka benda tipis itu, masih pada sandaran gilang yang amat pas di tubuhnya yang kurus.
notif bermunculan, ramai yang tak bersuara manusia.
,ya
siapa disini yang bodoh kalo begitu?
"zeffanya...?"
"zeffanya?"
"e.. eh? iya kenapa?"
"kenapa ngelamun?"
"mm enggak, gak kenapa napa"
bersama deburan ombak yang ramai namun sepi, pada akhirnya malam itu mereka habiskan dengan banyak berbicara daripada diam seperti yang senang dilakukan keduanya. membahas banyak hal seakan menceritakan ulang apa yang 5 tahun sama sama berjalan dan berputar dikehidupan mereka. selayaknya romeo dan juliet yang akhirnya bertemu lagi di atas surga.
....
"lang," keduanya baru saja sampai pada stasiun tokyo, kereta dari yokohama pagi pagi sekali mereka tumpangi untuk kembali ke kota ini, entah kemana tujuannya, tapi bersam acuma tujuan akhirnya.
"kamu mau akhirnya akan bagaimana?" pertanyaan seusai kereta cepat menurni mereka kepada hingar stasiun yang lamat memecah lamunan gilang yang patah patah. mau tidak mau, iya tau ada akhirnay gadis yang sangat dicintainya ini akan menuntut satu hal, kepastian. satu satunya tuntutan yang ia tau akan berlabuh sejak dulu, bersama beberapa kata iya dan tidak yang ragu ia tulis sepanjang waktu, hingga kata itu saat kini harus menjadi abu. abu yang abu-abu.
"nya? jangan sekarang ya"
anya cuma mengangguk, kembali mendekap telapak tangan gilang yang dilapisi sarung tangan, tahun baru telah menginjak pada hari ke 3 nya pagi ini. gadis itu seperti anak kecil yang menggandeng tangan ibunya, ia seperti anak kecil yang nampak senang dan penasaran pada kemana tujuan iibunya membawanya berpetualang dan bersenang hari ini.
ya, padahal ia tidak tau, yang mengajaknya berpetualang bukan sang ibu, yang menggandeng lengannya juga bukan ibunya pula. tapi waktu dan juga semesta yang sebenarnya sedang menggandeng serta membawaanya.
ia lupa, sungguh ia lupa bahwa bukan cuma ia yang mampu melukis kisah.
....
setelah keluar dari stasiun, keduanya menikmati udon di penjual kecil dekat sana, duduk berhadapan dengan riang, namun kali ini gilang lebih banyak diam.
sampai udon itu tandas, gilang tetap memilih diam.
"zeffanya" ia memegang kedua telapak tangan gadisnya yang dingin sebab sarung tangan telah ia tanggalkan.
"kenapa?" belum ada firasat buruk disana, ya... memang anya tidak pernah memiliki firasat apa apa saat bersama pemuda ini bukan? Pemuda yang tidak pernah khatam ia tebak.
"kamu mau menerima saya apa adanya?"
"kamu nunggu jawaban apalagi dari aku, gilang?"
"kamu lebih membela dirimu yang bahagia atau orang lain?"
"masih sama jawabannya lang, tergantung, tergantung keputusan itu akan menyakiti siapa aja"
gilang mengangguk, memegang lebih erat telapak tanga mungil itu.
"saya tau kamu wanita kuat, saya tau bahkan tanpa saya pun kamu bisa berdiri"
"stop! apa lagi sih lang? apa perlu jawaban lebih panjang lagi selain kedatangan ku ke tokyo?"
"saya tau zeffanya, sekali lagi, saat saya gak ada 5 tahun lamanya. adakah yang.... menemani kamu selama itu"
"..." jawaban yang telah disiapkan gadis itu tertahan, bibirnya kini seperti sengaja dikunci, ia tidak bersuara, ya nyatanya suaranya habis, dan gilang mulai terdiam, melepaskan cengkraman tangannya yang kalut dan tulus.
anya masih diam hingga tautan tangan itu terlepas dan nampak pasrah di meja.
keduanya menyeka perasan mereka masing-masing
"kenapa kamu gak milih dia nya?"
"kenapa kamu lebih memilih saya dan tokyo yang brengsek?"
"kenapa?"
"kenapa kamu gak bilang aja?!"
"karena gak ada yang bisa bawa aku pulang lang! gak ada selain kamu!"
"bukannya saya punya kemungkinan cuma rumah singgah"
"kamu bukan cuma rumah lang! kamu pembawa titik di hidup aku! satu satuunya tanda yang bisa buat aku berhenti buat terus terusan lari"
"hidup bukan cuma tentang titik sama koma, zeffanya"
"tapi aku maunya kamu! cukup?"
"telfon dia"
"buat apa?"
"telfon lelaki itu nya, saya yakin dia yang yakini kamu buat tetap ada di bumi selagi saya gak ada"
"hhahhh?" mendecih sekuat tenaga dengan air mata yang tumpah ruah, gadis itu mencari handphonenya dengan telak, memikirkan kalimat kalimat kawannnya pada snapgram kepulangan.
ia tidak tau siapa yang salah disini, siapa yang kebingungan disini.
benda mungil itu mulai bergetar, mulai terdengar kata halo pada suaranya, 3 kali, dan anya semakin sesenggukkan mengingat bagaimana satya menemaninya pada london yang hampa, juga membawnya ada pertemuan dengan gilang.
"ya kenapa? eh kok lo nangis? Nya!"
anya masih sesenggukkan, menahan kesesakkannya pada dua manusia yang tanpa ia sadari adalah alasannya tetap berlari. "h-halo sat?" ia menghapus air mata itu.
"kenapa nya?"
"sat lo punya perasan ke gue kan?" suara itu terdengar sendu,
"Hah? Kenapa sih nya? lo gak ketemu gilang? gue yakin dia masih ada di tokyo nya"
"sat, kenapa lo gak pernah bilang?"
"anya? ada apa sih? wah ngaco lo nya"
"sat, kenapa lo hancurin perasaan lo sendiri? demi ego gue?" pemuda itu terdiam, ia dibuat mematung dan melongo oleh kalimat didalam telfon yang kini tidak hanya merayapi telinganya, tapi juga merayapi hatinya yang kalap
lama terdiam, akhirnya ia memutuskan, "anya gue tau, disitu ada gilang kan? dia yang nyuruh lo nelfon gue kan?"
namun berbalik, gadis itu terdiam, tidak ada jawaban, karena yang terdengar hanyalah sesenggukkan
tapi bukan satya namanya yang tak putus harap, "nya dengerin gue, gue bahagia liat lo bahagia. gue sakit liat lo hampa, udah nya, dia udah ada disamping lo kan?"
masih dengan suar ayang samr namun mampu terdengar aya membalas "ya tapi kenapa lo gak pernah nyoba sama gue sat? dan ngebiarin gue ngejalin hubungan hampa sama mantan mantan gue itu. kenapa enggak?"
"karena lo gak perlu tanda koma apalagi 'kita' dihidup lo nya, karena yang lo perluin itu bukan sama gue tapi yang lo perluin cuma tanda titik diantara kisah kita, iya, tanda tiitk buat mempertemukan lo sama dia. dan itu udah..."
"sat,, tapi ini gak adil"
"lo mau cari keadilan yang kayak gimana lagi sih nya? keadilan buat penantian lo sama dia? atau keadilan buat usaha gue dari dulu?"
"ini gak adil..."
"udah nya, apus air mata lo, kalo dia gak cocok gue masih punya penghapusan buat komain kalimatnya dan bawa lo ke kalimat gue buat mencapai ending bahagia" kemudian telfon diputuskan sepihak, bersama kesesakkan dua pihak.
"saya menghamili gadis jepang disini" gilang yang dari tadi menunduk itu akhirnya bersuara. menambah kesesakkan yang ada. menambah kebodohan.
"bayinya sudah 4 bulan, tadinya saya mau nyuruh rekan kerja saya itu buat mengguugurkan kandungannya..."
dahi yang kusut itu bertambah kusut, riweh sekali bentukkannya "lo jahat!"
PLAKK! ia menampar wajah gilang yang sudah siap dibunuh detik itu juga, ia juga hampir pergi, anya hampir saja menghempaskan seisi meja dengan kusut, namun gilang menahan tangannya, ia tidak akan membiarkan penjelasan terjabar setegah setengah walau ppipi dan hatinya memerah perih.
"tapi saya inget kamu, gak jadi, wanita itu tidak meminta dikawinkan, dia cuma minta tanggung jawab biaya saja kalau bayi itu lahir."
kok lo tega sih lang?!"
"saya gak mau bilang ini ke kamu! tapi siapa yang lebih tega?" ia meghembuskan nafasnya kasr, melanjutkan hingga anya kembali duduk di kursinya. "kita semua ini tega nya,, karena cuma semesta sama waktu yang bisa ngatur. bukan saya atau kamu"
anya duduk, bersama air mtanya yang basah.
"gadis itu rekan saya, sama seperti satya."
"dia mencintai saya sampai ngelakuin hal hal bodoh buat saya yang brengsek dan berhati dingin ini. saya tau saya salah dan saya brengsek. setelah pagi pagi buta dia datang ke kontrakkan saya yang waktu itu dan mengaku dia hamil, saya marah sama diri saya sendiri, sama harapan say, sama dia juga. hampir say suruh dia menggugurkan kandungannya tapi gak jadi karena say takut kamu tau saya lebih brengsek dari sekadar lelaki tidak tanggung jawab. tapi gadis itu gak minta saya nikahi, dia nhingetin saya sama sebuah tulisan yang bodohnya tulisam kamu tentang ketulusan cinta nya.... dan itu bodoh, dengan brengsek saya mengainkan perkataannya, akhirnya dia cuma minta biaya saja kemudaina dia mulai cuek sama saya. tidak berbicara 4 bulan lamanya. dan saya juga semakin dingin sejak itu. saya semakin gak bisa bicara, kalau saja say gak punya kemampuan baik, mungkin sya sudah jadi gelandangan di jepang"
sesenggukkan anya mendengar ceerita pemudanya, sesama perempuan hatinya tergores perih oleh bayangan banyak luka.
"gue ke jepang buat dateng bahagia sama lo, buat nyudahin semua perasaan hampa, iya bener perasan hampanya hilang! tapi diganti sama sakit yang gila banget rasanya lang, gue kayak gak siap lang. kayak buru buru banget kalian mau bunuh gue..."
.....
"anya?"
"lo serius nya?"
"kalo gak serius idung gue panjang deh"
"yeh! mana ada pinokio kayak lo!"
"kenapa? gue terlalu cantik kannn!"
"pd banget!"
pernikahan itu berlangsung khidmat pada pantai senja tokyo yang indah. ya, anya mampu melihat ketulusan dari wajah gadis itu, ketulusan yang bahkan mau dan menyanggupi untuk ikut kemana ajaran suaminya berakar dan menuju.
hanya ada keluarga mempelai wanita disana, juga tidak banyak tamu yang datang.
keduanya menyalami sepasang itu, sang gadis memeluk pemudanya sesaat, menahan kaca yang hampir pecah begitu saja, juga menyalami wanitanya yang tersenyum dan mengenal ia sendiri, "ternyata kita ketemu lagi buat saling ikhlas sama belajar mencintai lagi ya lang?" senyumnya sebelum meninggalkan kursi yang juga disambut senyuman keduanya.
sakura, dan gilang. tanda titik itu menyudahi semua drama titik koma yang menggelayuti hidupnya, dan satya menggenggam jemari gadis itu penuh kejelasan.
"setelahh pulang ke indo, kita nyusul" kemudian pemuda itu tersenyum menggenggam jemari gadisnya.
dan setelah senja menghabisi mentarinya, pelabuhan menghujani tokyo malam itu dengan cinta, menghantui semua pelupuk mata yang menatap terpaku pesta kembang api yang pecah setelahnya. bersama degupan cinta yang mereka genggam masing masing pada setiap bahasa hatinya sendiri.
the end~
:)
.....
Terimakasih sudah mampir!
-Salam hangat, moon.
Komentar
Posting Komentar