Pagi dan sisa hujan
Pagi dan sisa hujan adalah metafora yang berbahaya
Dimana hanya ada aku, kamu, dan lorong waktu.
Aku tidak berani menyalami udaranya yang menusuk hati,
Aku terlampau pengecut untuk menginjak sisa Isak matanya yang pupus dan sakti,
Sakti menghidupkan yang butuh,
Sakti menghidupkan jua yang tak lagi utuh.
Maka aku bersembunyi, didalam selimut gelap, didalam kaos kaki yang kusam, dimanapun, meski terdengar matahari dan kenangan terus mengetuk ngetuk kaca jendela
Aku terus bersembunyi, hingga tak sadar tlah menciptakan hujanku sendiri
Komentar
Posting Komentar