Langsung ke konten utama

happy birthday, s siii

Air, api, atau tanah? Hey, bagaimana dengan malaikat saja? 

Lantas menurutmu,

Bagaimana kita menggambarkan betapa cintanya 5 kepada 1 mu yang tidak terlalu keatas itu, juga tidak terlalu terhantuk hantuk kujur jalanan dibawahnya. Penerbangan yang konstan, seringsekali di mispersepsikan sebagai penerbangan paling aman di bumi raya, padahal didalam sana, pada kacamatamu yang hanya ia yang bisa melihat hujan gerimis damai dan petirnya. Engkau terhantuk dan terbentur ajur seperti kata buku buku. Badai itu senantiasa terbentuk menghidupi kita, aku dan kamum 

Tapi kamu masih ada, begitupun aku dan dunia. Kamu masih memilih ada, memilih tetap ada dan berada, hingga hingga kami ingin menyebutmu dewasa. 

Jadi, biar gerbang gerbang ini yang mengabulkannya untukmu lewat usia. Lewat perjumpaan kita, juga orang orang yang kau temui selanjutnya. Hey, sedih menangis saja. Senang, tertawa saham dunia bukan pengakuan, tapi kamu mengakui betapa baiknya bait lembaran yang telah kau tulis. Meski selamanya tak halus, tapi kata kata itu bukan hiperbola kebohongan, melainkan kebenaran yang mengesankan. Sebagaimana kamu, mimpi mimpimu itu, sebagaimanapun ia tidak memberimu janji, kami tetap mempercayainya. Sebagaimana si tubuh menopang angannya yang dingin dan tinggi. Aku yang akan tetap percaya, mempercayainya. 

Ahhh, mungkin sudah. Angka 16 sebentar lagi akan kau terima, melekat pada dirimu yang utuh. Jadi aku tidak akan memintamu berterimakasih. Aku tak akan menghadiahiku terimakasih. Aku tidak akan memberimu mengerti. Sebab ini semua hanya perihal jalan dan berhenti. Hidup perihal keduanyam jadi, jangan berhenti. Tetap hidup dan mencintai hidup. Bahkan, setelah sayap sayap serta langkahmu tak lagi memiliki sisa tanah dan udara untuk tetap berpijak, di bumi ini. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

di suatu kedai pinggir jalan

Di suatu sore, kau mengajakku kencan buta. Sabtu sore yang anggun, malam minggu yang sedikit asing. Kita berputar mengelilingi jakarta yang begitu sempit, bukan karena kejutan, tetapi kau memang dihantui kebingungan. Itu saja. Arogansimu atas laki laki kerap terlaku tinggi, tapi nalurimu akan orang buta kerap membuatku rendah. Tidak apa, waktu itu musim uang baru, memang hanya segelintir yang mendapat, dan segelintirnya aku.  "Uang baru nih" "Wih mana? Mau liat"  "Nih"  Aku seperti anak kecil, banyak sebutan itu bersileweran tapi tak ada yang menggantikan. Uang seribu, cinta samar semalam semu, dan kata "abadi" pada kotak hadiahku.  Tetapi, kita memang terjebak pada jakarta sih. Ya, memang kota sialan itu. Bisa bisanya kita berpisah begitu saja. 

Jim,

Bayanganmu itu, Menggilai aku ya? Bagaimana aku bisa terbuai lagi? Pada kenangan asap rokokmu, Juga lantunanmu yang fana  Belum sempat kudengar kau bersuara  Kau tlah memiliki dua, Kita teralih? Terlalu tinggi~ Sedang botol hijau yang kau belikan tadi malam  Tidak kunjung membuatku pergi  Dari keabadian yang tak membuatku jera untuk lagi lagi meneraka-kan-nya

menolak kegagalan

Entah mengapa menolak kegagalan bisa jadi sedemikian pahit untuk sepotong brownis cokelat bertabur kacang. Entah mengapa, menolak kegagalan bisa sedemikian pisang kuning tak bersemangat yang masam. Entah bagaimana, aku selalu terjebak, pada kemuraman, kegagalan. Dan kesedihan tahun kemarin juga tahun depan. Katanya, mati satu tumbuh seribu, tuhan justru mematikan segala sisa sisa yang menyala. Yang kupikir tak akan redup, yang cahayanya berpendar, sampai sampai aku tidak berkeberatan untuk terlupakan.  Dan senja, potonganmu abadi.  Bersama bayang bayang purnama.  Sayangnya, tak ada yang namanya tukar air mata.  Yah, kak, kita memang sudah terlalu jauh. Dan, memang, membiarkanku terlupakan adalah sesungguh sungguhnya cara untuk mati