Air, api, atau tanah? Hey, bagaimana dengan malaikat saja?
Lantas menurutmu,
Bagaimana kita menggambarkan betapa cintanya 5 kepada 1 mu yang tidak terlalu keatas itu, juga tidak terlalu terhantuk hantuk kujur jalanan dibawahnya. Penerbangan yang konstan, seringsekali di mispersepsikan sebagai penerbangan paling aman di bumi raya, padahal didalam sana, pada kacamatamu yang hanya ia yang bisa melihat hujan gerimis damai dan petirnya. Engkau terhantuk dan terbentur ajur seperti kata buku buku. Badai itu senantiasa terbentuk menghidupi kita, aku dan kamum
Tapi kamu masih ada, begitupun aku dan dunia. Kamu masih memilih ada, memilih tetap ada dan berada, hingga hingga kami ingin menyebutmu dewasa.
Jadi, biar gerbang gerbang ini yang mengabulkannya untukmu lewat usia. Lewat perjumpaan kita, juga orang orang yang kau temui selanjutnya. Hey, sedih menangis saja. Senang, tertawa saham dunia bukan pengakuan, tapi kamu mengakui betapa baiknya bait lembaran yang telah kau tulis. Meski selamanya tak halus, tapi kata kata itu bukan hiperbola kebohongan, melainkan kebenaran yang mengesankan. Sebagaimana kamu, mimpi mimpimu itu, sebagaimanapun ia tidak memberimu janji, kami tetap mempercayainya. Sebagaimana si tubuh menopang angannya yang dingin dan tinggi. Aku yang akan tetap percaya, mempercayainya.
Ahhh, mungkin sudah. Angka 16 sebentar lagi akan kau terima, melekat pada dirimu yang utuh. Jadi aku tidak akan memintamu berterimakasih. Aku tak akan menghadiahiku terimakasih. Aku tidak akan memberimu mengerti. Sebab ini semua hanya perihal jalan dan berhenti. Hidup perihal keduanyam jadi, jangan berhenti. Tetap hidup dan mencintai hidup. Bahkan, setelah sayap sayap serta langkahmu tak lagi memiliki sisa tanah dan udara untuk tetap berpijak, di bumi ini.
Komentar
Posting Komentar