Langsung ke konten utama

lukisan di dermaga sore itu

Aku menemukan mu pada kota kota di sela sela jariku yang rapuh, lewat ketidaklentikan kukunya yang tidak sengaja menangkap bayang disudut matanya, kau menggambarkan ku sebagai objek yang berjalan, sedang kamu selalu ku gambarkan sebagai subjek yang akan selalu bersisian. Aku bukan perahu yang kebingungan, tuan. Tetapi langit langit pada dermagamu yang tetap menjawab ku dengan lukisan, membiarkan Aku menerka nerka apa makna yang tengah digambarkan oleh pelukisnya. Bukan malah kusam, tidak kah engkau sadari berapa indah senja yang kau suguhkan pada siapapun, bahkan tidak untukku. Lantas perahu mana yang tidak tertarik untuk tertambat?

30/01/2022
By.jktmoonlight

Komentar

Postingan populer dari blog ini

di suatu kedai pinggir jalan

Di suatu sore, kau mengajakku kencan buta. Sabtu sore yang anggun, malam minggu yang sedikit asing. Kita berputar mengelilingi jakarta yang begitu sempit, bukan karena kejutan, tetapi kau memang dihantui kebingungan. Itu saja. Arogansimu atas laki laki kerap terlaku tinggi, tapi nalurimu akan orang buta kerap membuatku rendah. Tidak apa, waktu itu musim uang baru, memang hanya segelintir yang mendapat, dan segelintirnya aku.  "Uang baru nih" "Wih mana? Mau liat"  "Nih"  Aku seperti anak kecil, banyak sebutan itu bersileweran tapi tak ada yang menggantikan. Uang seribu, cinta samar semalam semu, dan kata "abadi" pada kotak hadiahku.  Tetapi, kita memang terjebak pada jakarta sih. Ya, memang kota sialan itu. Bisa bisanya kita berpisah begitu saja. 

Jim,

Bayanganmu itu, Menggilai aku ya? Bagaimana aku bisa terbuai lagi? Pada kenangan asap rokokmu, Juga lantunanmu yang fana  Belum sempat kudengar kau bersuara  Kau tlah memiliki dua, Kita teralih? Terlalu tinggi~ Sedang botol hijau yang kau belikan tadi malam  Tidak kunjung membuatku pergi  Dari keabadian yang tak membuatku jera untuk lagi lagi meneraka-kan-nya

menolak kegagalan

Entah mengapa menolak kegagalan bisa jadi sedemikian pahit untuk sepotong brownis cokelat bertabur kacang. Entah mengapa, menolak kegagalan bisa sedemikian pisang kuning tak bersemangat yang masam. Entah bagaimana, aku selalu terjebak, pada kemuraman, kegagalan. Dan kesedihan tahun kemarin juga tahun depan. Katanya, mati satu tumbuh seribu, tuhan justru mematikan segala sisa sisa yang menyala. Yang kupikir tak akan redup, yang cahayanya berpendar, sampai sampai aku tidak berkeberatan untuk terlupakan.  Dan senja, potonganmu abadi.  Bersama bayang bayang purnama.  Sayangnya, tak ada yang namanya tukar air mata.  Yah, kak, kita memang sudah terlalu jauh. Dan, memang, membiarkanku terlupakan adalah sesungguh sungguhnya cara untuk mati