Langsung ke konten utama

merah jambu tanpamu

Hari ini langitnya bagus. senja terasa manis, manis merah jambu. Meski tidak persis dan tidak semanis seperti waktu itu. Tetapi Aku tidak menyayangkan langit yang lebih santai kali ini, ia persis terlukis Bagai tak akan terburu dan merasa terkejar waktu. Warna jingga dan jambu merah muda berpadu sedikit Demi sedikit mengisi spasi seperti Meniti kepulangan dengan pasti, meski ujungnya hanya Seperti angin masa lalu yang perlahan muncul menusuk nusuk masa depan yang tak bisa melajukan apa apa. Sebatas angin masa lalu yang membuatku sedikit menghembuskan nafas dengan kasar, tapi juga enggan dan santai. Membuatku lagi lagi mengamini fakta Aku tidak ingin kehilangan, tapi kepergian mu bisa menjadi kepulangan mu yang baru. Dan siapa aku yang mampu menahan kebahagiaan seseorang? Hati hati di jalan, kata tulus. Biasanya juga itu kata kata yang kau bilang kalau aku hendak kemanapun, sekarang, ketika perjalanan terasa lebih nyata tidak ada kalimat mu yang mewanti wanti ketercelakaan. Ah kita, senjamu, aroma mu, bayangan serta punggungmu. Aku rasa senja kali ini terasa kurang, senja selalu terasa kurang tanpa mu meski sudah berapa ratus minggu tidak kita habiskan.

24/03/2022
By bulan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

di suatu kedai pinggir jalan

Di suatu sore, kau mengajakku kencan buta. Sabtu sore yang anggun, malam minggu yang sedikit asing. Kita berputar mengelilingi jakarta yang begitu sempit, bukan karena kejutan, tetapi kau memang dihantui kebingungan. Itu saja. Arogansimu atas laki laki kerap terlaku tinggi, tapi nalurimu akan orang buta kerap membuatku rendah. Tidak apa, waktu itu musim uang baru, memang hanya segelintir yang mendapat, dan segelintirnya aku.  "Uang baru nih" "Wih mana? Mau liat"  "Nih"  Aku seperti anak kecil, banyak sebutan itu bersileweran tapi tak ada yang menggantikan. Uang seribu, cinta samar semalam semu, dan kata "abadi" pada kotak hadiahku.  Tetapi, kita memang terjebak pada jakarta sih. Ya, memang kota sialan itu. Bisa bisanya kita berpisah begitu saja. 

Jim,

Bayanganmu itu, Menggilai aku ya? Bagaimana aku bisa terbuai lagi? Pada kenangan asap rokokmu, Juga lantunanmu yang fana  Belum sempat kudengar kau bersuara  Kau tlah memiliki dua, Kita teralih? Terlalu tinggi~ Sedang botol hijau yang kau belikan tadi malam  Tidak kunjung membuatku pergi  Dari keabadian yang tak membuatku jera untuk lagi lagi meneraka-kan-nya

menolak kegagalan

Entah mengapa menolak kegagalan bisa jadi sedemikian pahit untuk sepotong brownis cokelat bertabur kacang. Entah mengapa, menolak kegagalan bisa sedemikian pisang kuning tak bersemangat yang masam. Entah bagaimana, aku selalu terjebak, pada kemuraman, kegagalan. Dan kesedihan tahun kemarin juga tahun depan. Katanya, mati satu tumbuh seribu, tuhan justru mematikan segala sisa sisa yang menyala. Yang kupikir tak akan redup, yang cahayanya berpendar, sampai sampai aku tidak berkeberatan untuk terlupakan.  Dan senja, potonganmu abadi.  Bersama bayang bayang purnama.  Sayangnya, tak ada yang namanya tukar air mata.  Yah, kak, kita memang sudah terlalu jauh. Dan, memang, membiarkanku terlupakan adalah sesungguh sungguhnya cara untuk mati