Biasanya kita berhenti di indomaret dulu. Percakapanmu tentang cerita hari lalu kemudian terhenti , aku turun membeli sepasang kotak ultramilk. stroberi dan cokelat, juga satu lolipop pink, untuk memberhentikan hasrat mu merokok. Kemudian waktu memangkas jarak, kau melambatkan laju motormu yang tinggi, yang sering membuat kita bertengkar kecil hingga muncul cemoohanmu yang menyebalkan “dasar pendek” katamu. Dalam hati aku mengomel pelan mendengar cemoohanmu, kenapa jalanan terasa cepat ketika pulang?
Di suatu sore, kau mengajakku kencan buta. Sabtu sore yang anggun, malam minggu yang sedikit asing. Kita berputar mengelilingi jakarta yang begitu sempit, bukan karena kejutan, tetapi kau memang dihantui kebingungan. Itu saja. Arogansimu atas laki laki kerap terlaku tinggi, tapi nalurimu akan orang buta kerap membuatku rendah. Tidak apa, waktu itu musim uang baru, memang hanya segelintir yang mendapat, dan segelintirnya aku. "Uang baru nih" "Wih mana? Mau liat" "Nih" Aku seperti anak kecil, banyak sebutan itu bersileweran tapi tak ada yang menggantikan. Uang seribu, cinta samar semalam semu, dan kata "abadi" pada kotak hadiahku. Tetapi, kita memang terjebak pada jakarta sih. Ya, memang kota sialan itu. Bisa bisanya kita berpisah begitu saja.
Komentar
Posting Komentar