Yah Desember, aku ingat waktu itu kamu masih menebak nebak ulang tahunku, bebal! Bukan 27 kubilang. Aku ingat betul bagaimana wajahmu menyerah, aku memerah. Bulan sabit lebih dulu terbit padahal langit belum sempurna mengkilaukan kerlipnya. Ah, kufikir akan datang kembali surat surat yang begitu jauh di kamar kos ku di Kediri. Jauh,, kufikir jauh sekali.
Di suatu sore, kau mengajakku kencan buta. Sabtu sore yang anggun, malam minggu yang sedikit asing. Kita berputar mengelilingi jakarta yang begitu sempit, bukan karena kejutan, tetapi kau memang dihantui kebingungan. Itu saja. Arogansimu atas laki laki kerap terlaku tinggi, tapi nalurimu akan orang buta kerap membuatku rendah. Tidak apa, waktu itu musim uang baru, memang hanya segelintir yang mendapat, dan segelintirnya aku. "Uang baru nih" "Wih mana? Mau liat" "Nih" Aku seperti anak kecil, banyak sebutan itu bersileweran tapi tak ada yang menggantikan. Uang seribu, cinta samar semalam semu, dan kata "abadi" pada kotak hadiahku. Tetapi, kita memang terjebak pada jakarta sih. Ya, memang kota sialan itu. Bisa bisanya kita berpisah begitu saja.
Komentar
Posting Komentar