Langsung ke konten utama

aliran kenangan

Aku ke savana yang dahulu
Ia terletak didalam aliran nadi mu sendiri
Ia rajin memompa udara yang mengantarkannya pada sepasang telaga penyimpanan, tuan
Tetapi yang kudengar... Katanya, mereka tengah bersedih

Merindukan dongeng dongeng perihal kiasan merona yang sudah hilang

Entah terkubur atau tertinggal dibelakang

Aku hanya terdiam

Entah bagaimana mampu kuceritakan padanya lagi betapa hazel membawamu melambai
Sedang menoleh pun aku sudah lagi tidak

Tetapi, alirannya semakin deras

Mungkin ia bisa melembut apabila kudengungkan lagi manis tuturmu
Tetapi bagaimana aku akan bersenandung
Sedang telingaku sudah tuli sebab lama tak menangkap gelombang suaramu, sayang

"Apakah," katanya

Sayup kudengar didalam goa
Yang sempit terhimpit
Tersembunyi dan sunyi

Ia.. bernestapa

Apakah pandai berututur dalam dusta cinta ialah renjana
Apakah giat menyebut dalam doa ialah dosa
Apakah tuan tau betapa lama aku sudah memendam rasa?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

di suatu kedai pinggir jalan

Di suatu sore, kau mengajakku kencan buta. Sabtu sore yang anggun, malam minggu yang sedikit asing. Kita berputar mengelilingi jakarta yang begitu sempit, bukan karena kejutan, tetapi kau memang dihantui kebingungan. Itu saja. Arogansimu atas laki laki kerap terlaku tinggi, tapi nalurimu akan orang buta kerap membuatku rendah. Tidak apa, waktu itu musim uang baru, memang hanya segelintir yang mendapat, dan segelintirnya aku.  "Uang baru nih" "Wih mana? Mau liat"  "Nih"  Aku seperti anak kecil, banyak sebutan itu bersileweran tapi tak ada yang menggantikan. Uang seribu, cinta samar semalam semu, dan kata "abadi" pada kotak hadiahku.  Tetapi, kita memang terjebak pada jakarta sih. Ya, memang kota sialan itu. Bisa bisanya kita berpisah begitu saja. 

Jim,

Bayanganmu itu, Menggilai aku ya? Bagaimana aku bisa terbuai lagi? Pada kenangan asap rokokmu, Juga lantunanmu yang fana  Belum sempat kudengar kau bersuara  Kau tlah memiliki dua, Kita teralih? Terlalu tinggi~ Sedang botol hijau yang kau belikan tadi malam  Tidak kunjung membuatku pergi  Dari keabadian yang tak membuatku jera untuk lagi lagi meneraka-kan-nya

menolak kegagalan

Entah mengapa menolak kegagalan bisa jadi sedemikian pahit untuk sepotong brownis cokelat bertabur kacang. Entah mengapa, menolak kegagalan bisa sedemikian pisang kuning tak bersemangat yang masam. Entah bagaimana, aku selalu terjebak, pada kemuraman, kegagalan. Dan kesedihan tahun kemarin juga tahun depan. Katanya, mati satu tumbuh seribu, tuhan justru mematikan segala sisa sisa yang menyala. Yang kupikir tak akan redup, yang cahayanya berpendar, sampai sampai aku tidak berkeberatan untuk terlupakan.  Dan senja, potonganmu abadi.  Bersama bayang bayang purnama.  Sayangnya, tak ada yang namanya tukar air mata.  Yah, kak, kita memang sudah terlalu jauh. Dan, memang, membiarkanku terlupakan adalah sesungguh sungguhnya cara untuk mati