Pada Desember, aku takut kehilangan mu lebih jauh lagi, walaupun kusadari aku tidak pernah sama sekali memiliki mu, paling tidak hanya di kepalaku. Kamu tidak pernah berhasil ditebak oleh siapapun, makanya tidak seperti mereka yang menerka, Aku lebih memilih menerima. Apapun, apapun yang kau suguhkan, membiarkan kamu menjadi nakhoda kapal yang sebenarnya tidak ada sama sekali. Kapal yang ruang kemudinya sebenarnya hanya kita yang berada di Padang ilalang besar nan luas. Disanalah kau berceloteh, bercerita macam macam, tapi punggungmu memunggungiku. Untuk sekedar bertanya, kau hanya menoleh sedikit. Didalam semua percakapan kita, aku sering bertanya tanya... pernahkah kau sadari betapa banyak aku tersenyum dibelakangmu? Betapa banyak aku tersipu dalam membayangkan diam yang kau suguhkan kadang kadang. Betapa tidak takutnya aku, kehilangan kamu, yang sejujurnya hanya lukisan didepan mataku.
Bayanganmu itu, Menggilai aku ya? Bagaimana aku bisa terbuai lagi? Pada kenangan asap rokokmu, Juga lantunanmu yang fana Belum sempat kudengar kau bersuara Kau tlah memiliki dua, Kita teralih? Terlalu tinggi~ Sedang botol hijau yang kau belikan tadi malam Tidak kunjung membuatku pergi Dari keabadian yang tak membuatku jera untuk lagi lagi meneraka-kan-nya
Komentar
Posting Komentar