Pada Desember, aku takut kehilangan mu lebih jauh lagi, walaupun kusadari aku tidak pernah sama sekali memiliki mu, paling tidak hanya di kepalaku. Kamu tidak pernah berhasil ditebak oleh siapapun, makanya tidak seperti mereka yang menerka, Aku lebih memilih menerima. Apapun, apapun yang kau suguhkan, membiarkan kamu menjadi nakhoda kapal yang sebenarnya tidak ada sama sekali. Kapal yang ruang kemudinya sebenarnya hanya kita yang berada di Padang ilalang besar nan luas. Disanalah kau berceloteh, bercerita macam macam, tapi punggungmu memunggungiku. Untuk sekedar bertanya, kau hanya menoleh sedikit. Didalam semua percakapan kita, aku sering bertanya tanya... pernahkah kau sadari betapa banyak aku tersenyum dibelakangmu? Betapa banyak aku tersipu dalam membayangkan diam yang kau suguhkan kadang kadang. Betapa tidak takutnya aku, kehilangan kamu, yang sejujurnya hanya lukisan didepan mataku.
Di suatu sore, kau mengajakku kencan buta. Sabtu sore yang anggun, malam minggu yang sedikit asing. Kita berputar mengelilingi jakarta yang begitu sempit, bukan karena kejutan, tetapi kau memang dihantui kebingungan. Itu saja. Arogansimu atas laki laki kerap terlaku tinggi, tapi nalurimu akan orang buta kerap membuatku rendah. Tidak apa, waktu itu musim uang baru, memang hanya segelintir yang mendapat, dan segelintirnya aku. "Uang baru nih" "Wih mana? Mau liat" "Nih" Aku seperti anak kecil, banyak sebutan itu bersileweran tapi tak ada yang menggantikan. Uang seribu, cinta samar semalam semu, dan kata "abadi" pada kotak hadiahku. Tetapi, kita memang terjebak pada jakarta sih. Ya, memang kota sialan itu. Bisa bisanya kita berpisah begitu saja.
Komentar
Posting Komentar