Langsung ke konten utama

the end of rain session

The end of our meet session. 

Hujan Desember sudah habis, waktu itu aku masih mencintaimu dengan penuh. langit Jakarta serasa indah. orange. nyala. memerah. sepasang suami istri duduk berdampingan di depanku menikmati bagaimana senja menjemput mereka, tanpa dawai, tanpa seolah iri hati dengan orang-orang yang sibuk memotret di hadapannya. saat-saat itulah bagaimana aku mengharapkan kita tiba-tiba saja terlempar kemari. kau yang mengetahui maksudku bisa saja menunda lagi kereta Jakarta yang super tidak sabaran, Jakarta memang selalu buru-buru, kamu tau itu.. kamu tahu itu, bagaimana aku ingin menghentikan waktu. kamu tahu itu bagaimana aku ingin sekali mengabadikan senja. mengabadikan kita. kau tahu aku akan jatuh cinta lagi dan lagi pada sepasang telaga di bola matamu. kau tahu senja dan kamu tidak pernah menjadi satuan katalog yang kau pikir menjenuhkan untuk menjadi pusat tunggu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

di suatu kedai pinggir jalan

Di suatu sore, kau mengajakku kencan buta. Sabtu sore yang anggun, malam minggu yang sedikit asing. Kita berputar mengelilingi jakarta yang begitu sempit, bukan karena kejutan, tetapi kau memang dihantui kebingungan. Itu saja. Arogansimu atas laki laki kerap terlaku tinggi, tapi nalurimu akan orang buta kerap membuatku rendah. Tidak apa, waktu itu musim uang baru, memang hanya segelintir yang mendapat, dan segelintirnya aku.  "Uang baru nih" "Wih mana? Mau liat"  "Nih"  Aku seperti anak kecil, banyak sebutan itu bersileweran tapi tak ada yang menggantikan. Uang seribu, cinta samar semalam semu, dan kata "abadi" pada kotak hadiahku.  Tetapi, kita memang terjebak pada jakarta sih. Ya, memang kota sialan itu. Bisa bisanya kita berpisah begitu saja. 

Jim,

Bayanganmu itu, Menggilai aku ya? Bagaimana aku bisa terbuai lagi? Pada kenangan asap rokokmu, Juga lantunanmu yang fana  Belum sempat kudengar kau bersuara  Kau tlah memiliki dua, Kita teralih? Terlalu tinggi~ Sedang botol hijau yang kau belikan tadi malam  Tidak kunjung membuatku pergi  Dari keabadian yang tak membuatku jera untuk lagi lagi meneraka-kan-nya

menolak kegagalan

Entah mengapa menolak kegagalan bisa jadi sedemikian pahit untuk sepotong brownis cokelat bertabur kacang. Entah mengapa, menolak kegagalan bisa sedemikian pisang kuning tak bersemangat yang masam. Entah bagaimana, aku selalu terjebak, pada kemuraman, kegagalan. Dan kesedihan tahun kemarin juga tahun depan. Katanya, mati satu tumbuh seribu, tuhan justru mematikan segala sisa sisa yang menyala. Yang kupikir tak akan redup, yang cahayanya berpendar, sampai sampai aku tidak berkeberatan untuk terlupakan.  Dan senja, potonganmu abadi.  Bersama bayang bayang purnama.  Sayangnya, tak ada yang namanya tukar air mata.  Yah, kak, kita memang sudah terlalu jauh. Dan, memang, membiarkanku terlupakan adalah sesungguh sungguhnya cara untuk mati